Memberi Satu Dirham Lalu Allah Memberinya Seratus Dua Puluh Ribu Dirham

November 28, 2007

Dari Al-Fudhail bin Iyadh, ia berkata, seorang laki-laki menceritakan kepadaku: “Ada laki-laki yang keluar membawa benang tenun, lalu ia menjualnya satu dirham untuk membeli tepung. Ketika pulang, ia melewati dua orang laki-laki yang masing-masing menjambak kepal kawannya. Ia lalu bertanya, ‘Ada apa?’ Orang pun memberitahunya bahwa keduanya bertengkar karena uang satu dirham. Maka, ia berikan uang satu dirham kepada keduanya, dan iapun tak memiliki sesuatu.

Ia lalu mendatangi isterinya seraya mengabarkan apa yang telah terjadi. Sang isteri lalu mengumpulkan perkakas rumah tangga. Laki-laki itu pun berangkat kembali untuk menggadaikannya, tetapi barang-barang itu tidak laku. Tiba-tiba kemudian ia berpapasan dengan laki-laki yang membawa ikan yang menebar bau busuk. Orang itu lalu berkata kepadanya, ‘Engkau membawa sesuatu yang tidak laku, demikian pula dengan yang saya bawa. Apakah Anda mau menukarnya dengan barang (daganganku)?’ Ia pun mengiakan. Ikan itu pun dibawanya pulang. Kepada isterinya ia berkata, ‘Dindaku, segeralah urus (masak) ikan ini, kita hampir tak berdaya karena lapar!’ Maka sang isteri segera mengurus ikan tersebut. Lalu dibelahnya perut ikan tersebut. Tiba-tiba sebuah mutiara keluar dari perut ikan tersebut

Wanita itu pun berkata gembira, ‘Suamiku, dari perut ikan ini keluar sesuatu yang lebih kecil daripada telur ayam, ia hampir sebesar telur burung dara’.
Suaminya berkata, ‘Perlihatkanlah kepadaku!’ Maka ia melihat sesuatu yang tak pernah dilihatnya sepanjang hidupnya. Pikirannya melayang, hatinya berdebar. Ia lalu berkata kepad isterinya, ‘Tahukah engkau berapa nilai meutiara ini?’ ‘Tidak, tetapi aku mengetahui siapa orang yang pintar dalam hal ini’, jawab suaminya. Ia lalu mengambil mutiara itu. Ia segera pergi ke tempat para penjual mutiara. Ia menghampiri kawannya yang ahli di bidang mutiara. Ia mengucapkan salam kepadanya, sang kawan pun menjawab salamnya. Selanjutnya ia berbicar kepadanya seraya mengeluarkan sesuatu sebesar telur burung dara. ‘Tahukah Anda, berapa nilai ini?, ia bertanya. Kawannya memperhatikan barang itu begitu lama, baru kemudian ia berkata, ‘Aku menghargainya 40 ribu. Jika Anda mau, uang itu akan kubayar kontan sekarang juga kepadamu. Tapi jika Anda menginginkan harga lebih tinggi, pergilah kepada si fulan, dia akan memberimu harga lebih tinggi dariku’.

Maka ia pun pergi kepadanya. Orang itu memperhatikan barang tersebut dan mengakui keelokannya. Ia kemudian berkata, ‘Aku hargai barang itu 80 ribu. Jika Anda menginginkan harga lebih tinggi, pergilah kepada si fulan, saya kira dia akan memberi harga lebih tinggi dariku’. Segera ia bergegas menuju kepadanya. Orang itu berkata, ‘Aku hargai barang itu 120 ribu. Dan saya kira, tidak ada orang yang berani menambah sedikitu pun dari harga itu!’ ‘Ya’, ia pun setuju. Lalu harta itu ditimbangnya. Maka pada hari itu, ia membawa dua belas kantung uang. Pada masing-masingnya terdapat 10.000 dirham. Uang itu pun ia bawa ke rumahnya untuk disimpan. Tiba-tiba di pintu rumahnya ada seorang fakir yang meminta-minta. Maka ia berkata, ‘Saya punya kisah, karena itu masuklah’. Orang itu pun masuk. Ia berkata, ‘Ambillah separuh dari hartaku ini. Maka, orang fakir itu mengambil enam kantung uang dan dibawanya. Setelah agak menjauh, ia kembali lagi seraya berkata, ‘Sebenarnya aku bukanlah orang miskin atau fakir, tetapi Allah Ta’ala telah mengutusku kepadamu, yakni Dzat yang telah mengganti satu dirhammu dengan 20 qirath. Dan ini yang diberikanNya kepadamu adalah baru satu qirath daripada-nya, dan Dia menyimpan untukmu 19 qirath yang lain.


MABUK DALAM CINTA TERHADAP ALLAH

November 28, 2007

Dikisahkan dalam sebuah kitab karangan Imam Al-Ghazali bahwa pada suatu hari Nabi Isa a.s berjalan di hadapan seorang pemuda yang sedang menyiram air di kebun. Bila pemuda yang sedang menyiram air itu melihat kepada Nabi Isa a.s berada di hadapannya maka dia pun berkata, “Wahai Nabi Isa a.s, kamu mintalah dari Tuhanmu agar Dia memberi kepadaku seberat semut Jarrah cintaku kepada-Nya.”
Berkata Nabi Isa a.s, “Wahai saudaraku, kamu tidak akan terdaya untuk seberat Jarrah itu.”

Berkata pemuda itu lagi, “Wahai Isa a.s, kalau aku tidak terdaya untuk satu Jarrah, maka kamu mintalah untukku setengah berat Jarrah.”
Oleh kerana keinginan pemuda itu untuk mendapatkan kecintaannya kepada Allah, maka Nabi Isa a.s pun berdoa, “Ya Tuhanku, berikanlah dia setengah berat Jarrah cintanya kepada-Mu.” Setelah Nabi Isa a.s berdoa maka beliau pun berlalu dari situ.
Selang beberapa lama Nabi Isa a.s datang lagi ke tempat pemuda yang memintanya berdoa, tetapi Nabi Isa a.s tidak dapat berjumpa dengan pemuda itu. Maka Nabi Isa a.s pun bertanya kepada orang yang lalu-lalang di tempat tersebut, dan berkata kepada salah seorang yang berada di situ bahwa pemuda itu telah gila dan kini berada di atas gunung.

Setelah Nabi Isa a.s mendengat penjelasan orang-orang itu maka beliau pun berdoa kepada Allah S.W.T, “Wahai Tuhanku, tunjukkanlah kepadaku tentang pemuda itu.” Selesai saja Nabi Isa a.s berdoa maka beliau pun dapat melihat pemuda itu yang berada di antara gunung-ganang dan sedang duduk di atas sebuah batu besar, matanya memandang ke langit.
Nabi Isa a.s pun menghampiri pemuda itu dengan memberi salam, tetapi pemuda itu tidak menjawab salam Nabi Isa a.s, lalu Nabi Isa berkata, “Aku ini Isa a.s.”Kemudian Allah S.W.T menurunkan wahyu yang berbunyi, “Wahai Isa, bagaimana dia dapat mendengar perbicaraan manusia, sebab dalam hatinya itu terdapat kadar setengah berat Jarrah cintanya kepada-Ku. Demi Keagungan dan Keluhuran-Ku, kalau engkau memotongnya dengan gergaji sekalipun tentu dia tidak mengetahuinya.”

Barangsiapa yang mengakui tiga perkara tetapi tidak menyucikan diri dari tiga perkara yang lain maka dia adalah orang yang tertipu.
1. Orang yang mengaku kemanisan berzikir kepada Allah, tetapi dia mencintai dunia. 2. Orang yang mengaku cinta ikhlas di dalam beramal, tetapi dia inginmendapat sanjungan dari manusia. 3. Orang yang mengaku cinta kepada Tuhan yang menciptakannya, tetapi tidak berani merendahkan dirinya.
Rasulullah S.A.W telah bersabda, “Akan datang waktunya umatku akan mencintai lima lupa kepada yang lima :

1. Mereka cinta kepada dunia. Tetapi mereka lupa kepada akhirat.
2. Mereka cinta kepada harta benda. Tetapi mereka lupa kepada hisab.
3. Mereka cinta kepada makhluk. Tetapi mereka lupa kepada al-Khaliq.
4. Mereka cinta kepada dosa. Tetapi mereka lupa untuk bertaubat.
5. Mereka cinta kepada gedung-gedung mewah. Tetapi mereka lupa kepada kubur.”


Istiqamah Dalam Mengemban Dakwah

November 28, 2007

Secara bahasa, istiqâmah bermakna i’tidâl (lurus). Sedangkan menurut syariat dan perbuatan Rasul istiqâmah berarti afdhal ash-shalah (shalat yang paling utama) atau penyerahan dan peleburan diri yang sempuma di dalam Islam, baik pemikiran maupun perasaannya, terikat dengan ajarannya dan mendakwahkannya. Allah Swt. berfirman:

Karena itu, serulah (mereka kepada agama itu) dan beristiqamahlah sebagaimana diperintahkan kepadamu.(QS asy-Sura [42]: 15).

Allah Swt. juga berfriman:
Tuhanmu adalah Allah Yang Maha Esa. Karena itu, tetaplah pada jalan yang lurus. (QS Fushilat [41]: 6).

Istiqamah kepada Allah ditempuh dengan cara: selalu mentauhidkan-Nya, menolak selain-Nya, dan hanya meminta pertolongan kepada-Nya; senantiasa bertawakal dengan sebenar-benarnya dan berserah diri kepada-Nya dalam semua urusan; selalu memohon ampunan, rahmat, pertolongan, kemuliaan, dan kebaikan bagi seluruh umat-Nya dan para pengemban dakwah; senantiasa tunduk dan merendahkan diri kepada-Nya untuk menghilangkan seluruh keburukan yang menimpa Islam dan penganutnya; serta secara kontinu berzikir dan bersyukur kepada-Nya di saat malam dan siang—atas segala kenikmatan yang telah diberikan kepada segenap makhluk-Nya, atas Kitab dan Sunnah Rasul-Nya, atas keterikatan dengan hukum Islam, dan sebagainya.

Dzikrullâh (senantiasa mengingat Allah) akan menghasilkan kesadaran akan hubungan dengan Allah Swt. (idrak shillah billâh) dan akan menghasilkan pula keimanan yang kuat. Allah adalah Maha Pemberi dan Penghalang, Maha Menghidupkan dan Mematikan, Maha Memuliakan dan Menghinakan, serta Maha Menjaga dan Menolong. Allah akan senantiasa menjaga dan menolong dakwah beserta orang-orang yang istiqamah di dalamnya. Allah akan selalu menjaga dan menolong mereka yang selalu menyakini dengan pasti Kitab-kitab dan Sunnah Rasul-Nya dengan keyakinan yang tidak disertai unsur keraguan dan prasangka; yang selalu terikat dengan al-Quran dan Sunnah; yang selalu teguh di dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya; yang selalu mengikuti kunci-kunci kebaikan dan berusaha memasuki pintu-pintunya; yang tidak akan pemah keluar darinya dan bersikeras untuk mencari berbagai upaya untuk dapat memasukinya; yang berusaha merobohkan seluruh pintu yang ada yang tidak sesuai dengan kebaikan; yang selalu mewaspadai pintu-pintu dosa hingga merasa takut untuk memasukinya; serta yang senantiasa mencari berbagai upaya dan cara untuk mengetahui pintu-pintu dosa dan kunci-kuncinya. Dengan itu, ia bisa memahami berbagai kesalahan, bahaya, dan tipudayanya, sehingga tidak akan terperangkap dan terjatuh di dalamnya.

Pengemban dakwah, ketika meyakini hanya Allah-lah yang akan meneguhkan umatnya, hendaknya senantiasa melandaskan diri pada Islam, terikat dengan Islam, sekaligus selalu mendakwahkannya. Semua itu harus dibarengi dengan keyakinan yang pasti, bahwa Allah-lah yang memberikan berbagai sebab dan hanya ditangan-Nyalah hasil itu didapat. Ketika mereka berkeinginan untuk mencegah berbagai bahaya yang akan menimpa agama dan umatnya—sebagaimana telah diserukan Allah—maka sudah menjadi suatu kepastian untuk mengambil berbagai cara dan upaya yang dapat mencegah bahaya-bahaya tersebut; dengan keyakinan bahwa Allah Swt. akan selalu menjaga agama dan wali-wali-Nya. Ketika mereka berkehendak untuk istiqamah pada Islam, hendaknya mereka selalu berpegang pada ideolog Islam. Para ulama salaf yang salih dari kalangan para Sahabat Nabi dan mereka yang telah datang sesudahnya— yakni orang-orang Mukmin yang selalu istiqamah dan bersungguh-sungguh—tidak pernah patah semangat, selalu gigih, dan tidak pemah main-main.

Dengan demikian, pengemban dakwah wajib mengambil berbagai cara dan upaya yang dapat mengantarkan pada sifat-sifat istiqamah tadi, serta pada terwujudnya tujuan dan harapan, yakni ketakwaan kepada Allah Swt. Allah Swt. berfirman:

Siapa saja yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar, dan akan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia duga. Siapa saja yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan kebutuhannya. (QS ath-Thalaq [65]: 2-3).

Allah Swt juga berfiman:
Jika salah seorang di antara keduanya atau dua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “Ah!”(QS al-Isra [17]: 23).

Sementara itu, Rasulullah saw. bersabda:
Sesungguhnya Allah telah berwasiat kepada ibu kalian, kemudian kepada ibu kalian, kemudian berwasiat kepada bapak kalian, kemudian kepada kerabat dekat

Ketika pengemban dakwah membaca ayat dan sabda Rasul di atas, mereka tidak akan pemah berlaku kasar kepada kedua orang tuanya, dan selalu berperilaku baik kepada keduanya—walaupun keduanya bertindak zalim—selama mereka tidak memerintahkan kemaksiatan. Ia akan selalu berbicara kepada keduanya dengan lemah-lembut, mendoakan dan memohonkan ampunan bagi keduanya, melaksanakan amanat-amanat keduanya, memuliakan kebaikan-kebaikan mereka, bersedekah kepada keduanya, tidak melangkahi keduanya, tidak angkuh kepada keduanya, serta mengupayakan hal-hal yang dapat mendatangkan keridhaan keduanya.

Rasulullah saw. juga bersabda:
Sesungguhnya rahmat tidak akan turun kepada suatu kaum yang memutuskan silaturahim. Silaturahim itu merupakan penghubung dan kasih sayang. Barangsiapa yang menjalin silaturahim, maka dia akan dihubungkan. Barangsiapa yang memutuskannya, maka dia akan diputuskan.

Ketika memahami kedua sabda Rasul di atas, pengemban dakwah akan selalu bersikap welas-asih kepada karib-kerabatnya; senantiasa berlaku santun dan berlapang dada; selalu bersabar atas penderitaan yang ditimpakan oleh mereka; dan selalu berusaha menyambungkan silaturahim yang telah diputuskan oleh mereka. Mereka akan senantiasa mengambil berbagai cara yang dapat menyatukan dan menghubungkan kembali silaturahim, disertai berserah diri dan tunduk kepada Allah, supaya ditunjuki pada berbagai sebab yang dapat merealisasi maksud dan tujuan tersebut.

Oleh karena itu, pengemban dakwah—ketika meresapi ayat-ayat Allah dan memahami hadis-hadis Rasul yang memerintahkan untuk merealisir tujuan-tujuan yang yang telah ditetapkan oleh syariat, yakni melalui sebab-sebab dan cara-cara yang juga ditetapkan oleh syariat—hendaknya berjalan dengan sungguh-sungguh untuk menjiwai berbagai tujuan tersebut. Ia harus selalu terikat dan berjalan sesuai dengan jalan Islam atau sebab-sebab yang telah ditetapkan syariat, tanpa pernah berpaling darinya.

Allah Swt. berfirman:
Jika saja mereka tetap lurus di atas jalan itu (agama Islam), niscaya Kami akan memberi kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak). (QS al-Jin [72]: 16).

Karena itu, segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu. (QS adz-Dzariyat [51]: 50).

Pengemban dakwah hendaknya mengambil berbagai sebab atau kondisi, yakni dengan mulai membuat berbagai perencanaan dan tujuan umum, serta mengikuti metode dinamis dan tidak jumud untuk mencapai sejumlah tujuan yang lebih khusus. Setelah itu, ia memilih wasilah (cara) yang paling baik, yang dapat membantu meraih berbagai tujuannya.

Rasulullah saw., pada saat Perang Badar, sepenuhnya yakin bahwa Allah akan menolongnya, dan bahwa pertolongan itu hanya di tangan Allah semata. Beliau telah mempersiapkan sejumlah prasyarat yang dapat mengantarkan pada tercapainya pertolongan Allah, yaitu dengan tetap berpegang teguh pada perintah-Nya. Kekalahan yang terjadi pada kaum Muslim tidak akan terjadi seandainya saja pasukan panah tidak melanggar perintah Rasulullah. Tidaklah Rasulullah saw. berperang bagaikan singa merah di hadapan musuh-musuhnya saat Perang Uhud, kecuali untuk mengenyahkan berbagai bahaya yang ditimbulkan oleh orang-orang Yahudi dan kaum musyrik atas Islam dan Daulah Islam.

Ketika Rasulullah saw. berhijrah dari Makkah ke Madinah bersama Abu Bakar, beliau berusaha menghindari kekejaman orang-orang Quraisy. Beliau selalu berbekal keyakinan bahwa Allah-lah yang akan menjaga beliau sekaligus dakwah yang diembannya.

Istiqamah di jalan Allah juga berarti ikhlas semata-mata untuk Allah—baik dalam pemikiran, amal, maupun cita-cita; menjauhkan diri dari motif karena manusia; berserah diri bahwa Islam adalah qiyâdah fikriyyah; berupaya mewujudkan semua hal tersebut semata-mata untuk mendapatkan keridhaan Allah Swt.

Dengan demikian, pengemban dakwah wajib memiliki sifat-sifat mulia, kesadaran penuh, dan keikhlasan; sebagaimana hikmah dan doa yang ditamsilkan oleh ‘Umar ibn al-Khaththab r.a. Hikmah itu menyebutkan:

Manusia itu ada tiga macam: yang berakal, yang bodoh, dan yang gila. Orang yang berakal adalah yang tidak terpengaruh oleh hal-hal yang tidak kekal atas yang kekal. Orang yang bodoh adalah sebagaimana sebatang pohon yang ditiup angin, kemudian terombang-ambing. Orang yang gila adalah orang yang menjual akhiratnya demi meraih dunia.

Sedangkan doa Umar ibn al-Khaththab adalah sebagai berikut:
Ya Allah, jadikan seluruh amalku ini ikhlas, dan jadikan seluruh amalku hanya karena Engkau, dan jangan engkau jadikan amalku untuk seorang pun.

Metode Islam untuk mendapatkan sifat istiqamah di dalam Islam dan dakwah adalah sebagai berikut:

Pertama: Mengidentifikasi pemikiran yang mendalam dan pemikiran rusak yang diwariskan dari masa kemunduran. Hal ini, akan menjaga akal dengan pemikiran Islam, baik pemikiran yang berhubungan dengan akidah ataupun syariat. Setelah melakukan identifikasi, kemudian berupaya mengubah pemikiran tersebut menjadi mafâhîm (pemahaman) bagi dirinya, dengan jalan meyakininya, memahami fakta-faktanya di dalam otak dengan pemahaman yang cemerlang, jernih, dan jelas berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul. Mafâhîm tersebut harus menjadi satu bagian yang tidak terpisahkan dalam pembentukan akal. Dengan demikian, akan didapatkan suatu keterikatan dan dorongan kuat untuk menegakkan pemikiran tersebut.

Bertolak dari pemikiran dan mafâhîm ini, lalu ditegakkan metode dakwah dan dakwah Islam itu sendiri. Keduanya sekaligus dijadikan sebagai parameter (timbangan) untuk menghukumi fakta yang ada.

Selanjutnya adalah memahami fakta secara mendalam untuk mendapatkan tujuan-tujuan yang ingin diraih tanpa terpengaruh sedikit pun oleh berbagai pemikiran, hukum, pandangan, dan patokan-patokan yang bertentangan dengan Islam. Bahkan, semua itu harus dihilangkan. Persoalan-persoalan seperti nasionalisme dan demokrasi mesti dihilangkan. Demikian pula konspirasi antara gerakan-gerakan Islam dengan para penguasa di negeri-negeri Islam, seperti: meminta pertolongan kepada negara-negara kafir dan memberikan loyalitasnya kepada mereka; berhukum dengan asas nasionalisme; membiarkan dan berdiam diri dari penguasa yang berkhianat; masuk dalam sistem parlemen dan berdiam diri atas perundang-undangan kufur; menjadi perpanjangan tangan untuk menghambat berdirinya Daulah Khilafah; atau menafsirkan Islam sesuai dengan peradaban dan pemahaman Barat—seperti mengikuti kemaslahatan akal dan hawa nafsu sebagai pembenaran untuk menempuh jalan-jalan setan dan menentang jalan Islam; menjadikan fakta sebagai rujukan (sumber) hukum; menganggap adat-istiadat sebagai hukum (al-’âdah muhakkamah); meyakini bahwa (hukum) Islam bisa berubah atau berganti karena perubahan waktu, tempat, zaman, dan kejadian; atau rela dengan kenyataan (buruk) yang ada, dan sebagainya.

Para pengemban dakwah, dengan demikian, wajib secara kontinu menjaga akal dengan pemikiran Islam. Mereka harus terus-menerus mengemban dakwah Islam serta memerangi setiap pemikiran, hukum, patokan-patokan, pendapat, dan adat-istiadat yang bertentangan dengan Islam tanpa kompromi. Dengan itu, Islam mampu merobohkan kaum kafir, dan pemikiran Islam pun mampu menggulung seluruh kekuasaan kafir.

Walhasil, istiqamah dalam akal (istiqâmah al-aql) diperoleh dengan cara meleburkan diri secara sempurna dalam ajaran Islam. Hal itu akan tercapai jika para pengemban dakwah menegakkan kewajiban-kewajiban Islam, kewajiban-kewajiban dakwah, dan selalu bersabar di dalamnya. Allah Swt. berfirman:

Bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan duani ini. Jangan pula kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaanya melewati batas. (QS al-Kahfi [18]: 28).

Katakanlah, “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Karena itu, barangsiapa yang ingin beriman hendaklah beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah dia kafir.” (QS al-Kahfi [18]: 29).

Seandainya Kami tidak memperkuat (hatimu), niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka. Seandainya terjadi demikian benar-benarlah Kami akan timpakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun dari Kami. (QS al-Isra [17]: 74 – 75).

Dengan demikian, kewajiban berdakwah tidak boleh dipengaruhi oleh penerimaan ataupun penolakan manusia; tidak dipengaruhi pula oleh panjang atau pendeknya waktu ataupun oleh keuntungan dan kerugiannya. Akan tetapi, semua perkara harus selalu dihubungkan dengan surga dan neraka, atau ridha dan murka Allah. Pengemban dakwah harus bersemangat terhadap agama Allah dan berisitqamah di atasnya, walaupun akan tertimpa cobaan dan kerugian. Untuk itu, pengemban dakwah wajib selalu terikat dengan Islam, terikat dengan ide (fikrah) dan metode (thariqah)-nya tanpa ada pemisahan. Musibah yang sebenarnya bagi pengemban dakwah adalah musibah yang menimpa agamanya dan kerugiannya adalah kerugian dalam beragama. Setiap musibah setinggi dan sebesar apapun, walaupun diterpa goncangan yang dahsyat, tidak akan berpengaruh pada dirinya di dalam mengemban dakwah. Ia akan selalu berjalan lurus di atas ideologi Islam dan senantiasa berdakwah atas nama Islam. Setiap kerugian yang menimpanya, walau kerugian itu memuncak, tidak boleh mengguncang keteguhan para pengemban dakwah.

Allah Swt. berfirman:
Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya yang menimpa orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan berbagai macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya. “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS al-Baqarah [2]: 214).

Jika kamu menuruti kebanyakan manusia yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). (QS al-Aniam [6]: 116).

Allah tidak akan mengingkari janji-janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS ar-Rum [30]: 6).

Katakanlah, “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS Luqman [31]: 25).

Akan tetapi, sebagian besar tidak beriman. (QS Hud [11]: 17).

Akan tetapi, sebagian manusia tidak mau bersyukur. (QS al-Baqarah [2]: 243).

Sebagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya. (QS Yusuf [12: 103).

Kedua: Memecahkan persoalan perasaan instinktif yang bersifat primordial (fitri) dengan melandaskannya pada ideologi Islam, artinya perasaan yang terbentuk melalui jalan ‘aqliyyah Islâmiyyah. Rasulullah saw. bersabda:

Tidak beriman di antara kalian sampai kalian menjadikan hawa nafsu kalian tunduk (mengikuti) apa saja yang aku bawa.

Mengganti perasaan cinta kekuasaan dunia dengan perasaan cinta terhadap Islam; mengganti perasaan takut akan dunia menjadi takut hanya kepada Allah; mengganti perasaan tamak atas dunia menjadi perasaan dekat dengan Allah; beristiqamah dalam agama Allah dan dakwah; dan senantiasa menegakkan sabda Rasulullah saw. artinya, “Mati di dalam ketaatan kepada Allah lebih baik daripada hidup di dalam lumpur kemaksiatan.”

Mengganti kecintaan pada harta-benda dan umur panjang, menjadi kecintaan untuk bersedekah semata-mata karena Allah tanpa meminta imbalan dan jasa; mengganti perasaan bertanggung jawab pada kedudukannya, diri sendiri, dan keluarga, menjadi perasaan bertanggung jawab pada seluruh umat manusia.

Oleh karena itu, para pengemban dakwah hendaknya menundukkan perasaanya masing-masing dengan mengikuti agama Allah. Tidak terpaku hanya pada hal itu saja, tetapi meleburkan secara sempurna dengan ikatan Islam dan senantiasa berdakwah untuk Islam, dengan tujuan mengharap keridhaan Allah Swt.

Tidak diragukan lagi, dengan mengikuti perilaku Rasulullah saw. pada periode Makkah dan Madinahg, sekaligus mempelajari kisah-kisah para sahabat, kita akan mendapatkan bagaimana keistiqamahan mereka dalam Islam dan dakwah. Mereka sungguh menjadi “Islam yang hidup” dalam realitas. Mereka adalah suri teladan yang baik di dalam membangun kepribadian Islam dan dalam melakukan dakwah Islam. Mereka adalah contoh yang baik di dalam keterikatannya dengan hukum syariat. Mereka juga adalah contoh yang baik yang menunjukkan bahwa keagungan dan kemuliaan mereka hanyalah untuk Islam, baik dalam pemahaman, keterikatan, dan di dalam mendakwahkan Islam. Begitu pula kebiasaan mereka untuk merealisasikan pemahaman mereka, yaitu berkurban dengan sesuatu yang tinggi semata-mata untuk Islam. Mereka adalah orang-orang yang tiada bandingannya di dalam menegakkan Islam di dalam masyarakat dan di dalam mengemban dakwah ke seluruh dunia.

Rasulullah saw. menolak perjanjian dengan penguasa Quarisy yang didasarkan pada “toleransi” dengan peraturan-peraturan yang rusak. Beliau menolak meninggalkan permusuhan dan peperangan terhadap kebatilan. Beliau tidak pernah terpengaruh oleh berbagai goncangan atau ancaman. Beliau menganggap bahwa pergulatan politik merupakan suatu hal yang sangat penting, yang terkait dengan persoalan hidup dan mati. Beliau bersabda:

Demi Allah, seandainnya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di atas tangan kiriku agar aku meninggalkan perkara dakwah ini, (tentu tidak aku tinggalkan) sampai Allah menyaksikan perkara mereka atau aku binasa (yang) di dalamnya, (maka) aku tidak akan pernah berpaling.


ILMU LEBIH UTAMA DARIPADA HARTA

November 28, 2007

ALI BIN ABI THALIB, bukan saja seorang pejuang dan pahlawan yang senantiasa mendampingi Rasulullah,tetapi juga seorang ilmiawan yang lautan ilmu.

Pada suatu ketika,sepuluh ulama kaum khawarij mau “memplonco” atau menguji dalam-dangkalnya pengetahuan Ali.Mereka masing-masing mengajukan pertanyaan yang serupa dan meminta Ali menjawabnya dengan sepuluh jawaban yang berbeda-beda, tapi masih mencakup dalam ruang lingkup jawaban yang sama, senada, dan senafas.Pertanyaan itu ialah : “Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?”. Terhadap masing-masing kesepuluh ulama itu, Ali bin Abi Thalib memberikan jawaban dengan cepat dan tuntas kira-kira sebagai berikut :

Ilmu lebih utama daripada harta, sebab ilmu itu merupakan warisan (pusaka) para Nabi dan Rasul, sedangkan harta pusaka Qarun, Fir’aun, dll.
Ilmu lebih utama daripada harta, sebab dapat menjaga dan memelihara pemiliknya, sedangkan harta harus dipelihara dan dijaga oleh pemiliknya sendiri.
Ilmu lebih utama daripada harta, karena ilmu membentuk banyak sahabat dan kawan, sedangkan harta memperbanyak musuh dan lawan.
Ilmu lebih utama daripada harta,sebab ilmu apabila dikeluarkan (diajarkan) semakin bertambah, sedangkan harta jika dikeluarkan (dibelanjakan) semakin berkurang dan akhirnya habis.
Ilmu lebih utama daripada harta, karena orang-orang yang berilmu selalu mendapat panggilan kehormatan dan kemuliaan dari masyarakat (seperti : guru,uztad,kiyai,dll), sedang orang-orang yang berharta seringkali mendapat panggilan yang rendah dan hina (seperti pelit,kikir,dll)
Ilmu lebih utama daripada harta, karena ilmu tidak dapat dicuri dari pemiliknya, sedangkan harta dapat dicuri, hilang, bahkan amblas.
Ilmu lebih utama daripada harta, karena orang-orang yang berilmu pada hari kiamat kelak akan memperoleh syafaat dari ilmu yang dikembangkannya, sedangkan orang-orang yang berharta akan dihizab dan dimintakan pertanggungan jawab terhadap pemakaian harta tersebut.
Ilmu lebih utama daripada harta,sebab ilmu tidak dapat habis walaupun tidak ditambah, sedangkan harta lambat laun pasti akan habis.
Ilmu lebih utama daripada harta, sebab ilmu membentuk pikiran seseorang menjadi cerah dan hatinya terang benderang, sedangkan harta lebih banyak membuat pikiran pemiliknya menjadi kacau balau dan hatinya kusam.
Ilmu lebih utama darpada harta, karena ilmu yang mendatangkan manfaat merupakan pahala,sedangkan harta lebih banyak menimbulkan silang sengketa, azab,dan siksa.


Sekali Ini, Belajarlah Dari Ulat!

November 28, 2007

Bagi penggemar tanaman atau yang memiliki hobi berkebun, seringkali menemukan binatang yang menjengkelkan, dimana dedaunan muda yang tumbuh segar, menjadi tak beraturan dan bolong-bolong bahkan habis dan tinggal tangkainya saja. Ternyata setelah kita perhatikan ada hewan yang biasanya berwarna hijau, sehijau dedaunan untuk kamuflase, binatang tersebut adalah ulat.

Ulat adalah salah satu binatang yang sangat rakus dalam melahap hijaunya dedaunan tanaman yang kita sayangi. Rasa marah yang sangat bila kita jumpai tanaman kesayangan kita telah habis dedaunannya, bahkan hanya tinggal ranting-ranting saja. Sedih dan marah rasanya karena usaha kita terasa terampas begitu saja karena ulah sang ulat.

Dibalik kekesalan dan rasa marah, pernahkah kita mencoba untuk melihat atau sedikit tertegun mengernyitkan dahi atas ulah sang ulat tersebut atau sebaliknya kita membunuhnya untuk melampiaskan kekesalan hati, setega itukah?

Hasil yang diakibatkan oleh ulah sang ulat memang sangat mengesankan bila dibanding dengan wujud ulat yang lemah dan lunak tubuhnya. Melihat dari akibat yang dihasilkan maka dapat kita katakan bahwa karakter ulat adalah pekerja keras dalam menggunduli dedaunan tanaman kita, seakan-akan mereka seperti dikejar deadline dan harus buru-buru untuk menyelesaikan. Hasilnya sangat mengesalkan sekali buat kita, yaitu tanaman yang gundul dalam waktu yang relatif singkat dan sekali lagi sungguh mengesankan.

Dalam menjalani misinya sang ulat tak membiarkan sedikit waktu terbuang. Sang ulat baru berhenti ketika sampai pada saat yang ditentukan dimana ia harus berhenti makan untuk menuju ke dalam kondisi puasa yang keras. Puasa yang sangat ketat tanpa makan tanpa minum sama sekali, dalam lingkupan kepompong yang sempit dan gelap.

Pada masa kepompong ini terjadi sebuah peristiwa yang sangat menakjubkan, masa dimana terjadi transformasi dari seekor ulat yang menjijikkan menjadi kupu-kupu yang elok dan indahnya dikagumi manusia. Sang kupu-kupu yang terlahir seakan-akan menjadi makhluk baru yang mempunyai perwujudan dan perilaku yang baru dan sama sekali berubah.

Haruskah kita membiarkan begitu saja sebuah peristiwa yang sangat indah dan mengesankan ini, tentu tidak. Sebenarnya kita patut malu bila melihat tabiat ulat yang pekerja keras. Ulat seakan tak mempunyai waktu yang terluang dan terbuang sedikitpun. Waktu yang tersedia adalah waktu yang sangat berharga bagi ulat untuk menggemukkan badan sebagai persiapan menuju sebuah keadaan dimana diperlukan energi yang besar yaitu masa kepompong, seakan dikejar-kejar oleh deadline sehingga sang ulat tak pernah beristirahat sejenakpun untuk terus melahap dedaunan.

Berpacunya sang ulat dengan waktu, ternyata disebabkan sang ulat telah mempunyai sebuah tujuan yang sangat jernih dan jelas yaitu mengumpulkan semua potensi yang ada untuk menghadapi satu saat yang sangat kritis yaitu masa kepompong, dimana pada masa kepompong tersebut dibutuhkan persiapan yang prima. Datangnya masa kepompong adalah sebuah keniscayaan, maka sang ulat mempersiapkan dengan kerja keras untuk menghadapinya.

Sebuah persiapan diri dengan kerja keras dilakukan juga pada
hewan-hewan yang mengalami musim dingin. Dimana untuk menghadapi masa sulit di musim dingin, banyak hewan yang melakukan hibernasi selama musim dingin di gua-gua atau liang-liang, agar terhindar dari ganasnya musim dingin. Agar tubuh tetap hangat dan tersedianya energi maka sebelum menjelang musim dingin, hewan-hewan tersebut akan menumpuk lemak sebanyak-banyaknya di dalam tubuhnya, untuk dipakai sebagai bekal dalam tidur panjangnya.

Lalu coba kita berkaca dan mereview diri kita, adakah semangat yang luar biasa selayaknya ulat yang telah menggunduli dedaunan, bukankah sebuah masa depan dan tanggung jawab yang begitu beratnya harus kita pikul dan tunaikan. Namun kita terbuai dan masih sering suka bermain-main, selayaknya tertipu oleh permainan yang sangat melenakan.

Masa-masa dalam kehidupan kita sebagai individu atau kelompok, pasti tak akan pernah luput dari masa yang menyenangkan dan kemudian digantikan masa-masa yang sulit, itu adalah sebuah kepastian, sepasti bergantinya musim hujan disongsong oleh musim kemarau yang memayahkan.

Di dalam masa-masa senang satu saat akan berganti menjadi masa yang sulit dan bahkan menjadi sebuah musibah karena mengintai sebuah keterlenaan. Sungguh benar hadist nabi untuk mengambil kesempatan lima sebelum lima: muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, hidup sebelum mati dan senggang sebelum sibuk (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi). Dan bukankah kita telah diwanti-wanti untuk senantiasa mempersiapkan diri dengan apa saja yang kita mampu, untuk menggentarkan hati musuh-musuh kita.

Janganlah kita terlena bahkan kalah dengan hewan yang bernama ulat yang mempunyai etos kerja unggul dan memiliki pola pandang yang jauh ke depan yang meniti masa depan tersebut dengan kerja keras, karena masa depan dengan kesulitan dan cobaan itu pasti akan datang dan menghampiri kita, maka persiapan yang matang dan kerja keras yang mampu menolong kita dan bukan kemalasan dan menunda-nunda pekerjaan. Wallahu a’lam bishshowab .


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.