LANDASAN TEORI, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS PENELITIAN

November 28, 2007

Pengantar
Suatu landasan teori dari suatu penelitian tertentu atau karya ilmiah sering juga disebut sebagai studi literatur atau tinjauan pustaka. Salah satu contoh karya tulis yang penting adalah tulisan itu berdasarkan riset. Melalui penelitian atau kajian teori diperoleh kesimpulan-kesimpulan atau pendapat-pendapat para ahli, kemudian dirumuskan pada pendapat baru. Penulis harus belajar dan melatih dirinya untyk mengatasi masalah-masalah yang sulit, bagaimana mengekspresikan semua bahan dari bermacam-macam sumber menjadi suatu karya tulis yang memiliki bobot ilmiah.

Dengan menyadari hal ini, maka sepatutnya sebagai siswa tanpa terkecuali dan khususnya aktivis-aktivis harus mempersiapkan sedini mungkin untuk mengantisipasi kendala-kendala yang mungkin dihadapi. Menbangun kesadaran lebih awal merupakan jalan menuju kebangunan bersama yaitu diri dan lembaga (bagi aktivis-aktivis) menuju cita-cita yang diinginkan.

A.  Landasan Teori

Yang dibahas pada bagian ini adalah teori-teori tentang ilm-ilmu yang diteliti. Penyajian teori dalam landasan teori dianggap tidak terlalu sulit karena bersumber dari bacaan-bacaan. Akibatnya terjadilah penyajian materi yang tidak proporsional, yaitu mengambil banyak teori walaupun tidak mendasari bidang yang diteliti.Jadi seharusnya teori yang dikemukakan harus benar-benar menjadi dasar bidang yang diteiti. Selain itu, pada bagian ini juga dibahas temuan-temuan penelitian sebelumnya yang terkait langsung dengan penelitian. Teori yang ditulis orang lain atau temuan penelitian orang lain yang dikutip harus disebut sumbernya untuk menghindari tuduhan sebagai pencuru karya orang lain tanpa menyebut sumbernya. Etika ilmiah tidak membenarkan seseorang melakukan pencurian karya orang lain. Cara mengutip karya atau sumber tertulis itu sebagai berikut.
Kutipan Langsung
Kutipan langsung ada dua macam, yaitu :
(a)    Kutipan langsung yang terdiri atas tidak lebih dari 3 baris tau tidak lebih dari 40 kata ditempatkan didalam paragraf sebagaimana baris yang lain, tetapi diapit oleh tanda petik dua (“…”) yang dimulai atau ditutup dengan identitas rujukan.

Contoh :
Tolla (1996:89) menegaskan “Metode CBSA dalam pengajaran bahasa berdasarkan pendekatan komunikatif seharusnya berbeda denga metode CBSA dalam bidang studi yang lain.”
Cara yang lain adalah “Metode CBSA dalam pengajaran bahasa berdasarkan pendekatan komunikatif seharusnya berbeda denga metode CBSA dalam bidang studi yang lain.” (Tolla, 1996:89).
(b)    Kutipan langsung yang terdiri atas lebih dari 3 baris atau lebih dari 40 kata diketik dalam paragraf  tersendiri  dengan spasi tunggal yang didahului dan ditutup dengan tanda petik dua (“…”) dan dimulai pada ketukan ketujuh.

Contoh :
“Perihal perbedaan metode CBSA dalam pengajaran bahasa harus diwarnai oleh aktivitas berbahasa secara dinamis dan kreatif. Keaktifan secara intelektual tanpa disertai dengan keaktifan verbal tidak dapat dikatakan CBSA dalam pengajaran bahasa karena hakikat bahasa adalah tuturan lisan yang kemudian dikembangkan menjadi aturan lisan dan tulisan. Oleh karena itu, CBSA dalam pengajaran bahasa harus dimuati dengan kreativitas berbahasa sehingga nama yang poaling tepat adalah CBSA Komunikatif.”

Kutipan Tidak Langsung
Kutipan tidak langsung umumnya tampil bervariasi; bergantung kepada gaya bahasa penulis. Setiap penulis mempunyai cara sendiri-sendiri mengungkapkan kembali ide atau konsep orang lain didalam tulisannya. Ada penulis yang memberi komentar lebih panjang, tetapi ada yang menyatakannya dengan singkat. Kutipan tidak langsung tidak perlu disertai dengan halaman buku sumber, cukup dengan mencantumkan nama penulis yang diikuti dengan tahun terbitan buku sumber.

Contoh :
Tolla (1996) mengemukakan bahwa metode CBSA dalam pengajaran perlu dibedakan dengan metode CBSA  dalam bidang studi yang lain kerena pengajaran bahasa mempunyai karakteristik khusus yang berbeda dengan bidang studi yang lain.

Cara Lain :
Penerapan metode CBSA dalam pengajaran bahasa harus dibedakan dengan penerapannya dalam budang studi yang lain dengan alasan bahwa karakteristik  pengajaran bahasa adalah penggunaan bahasa secara dinamis dan kreatif (Tolla, 1996).

B. Kerangka Pikir
Kerangka pikir merupakan inti sari dari teori yang telah dikembangkan yang dapat mendasari perumusan hipotesis. Teori yang telah dikembangkan dalam rangka memberi jawaban terhadap pendekatan pemecahan masalah yang menyatakan hubungan antar variabel berdasarkan pembahasan teoritis.

Perlu dijelaskan bahwa tidak semua penelitian memiliki kerangka pikir. Kerangka pikir pada umumnya hanya dipruntukkan pada jenis penelitian kuantatif. Untuk penelitian kualitatif kerangka berpikirnya terletak pada kasus yang selama ini dilihat atau diamati secara langsung oleh penulis. Sedangkan untuk penelitian tindakan kerangka berpikirnya terletak pada refleksi, baik pada peneliti maupun pada partisipan. Hanya dengan kerangka berpikir yang tajam yang dapat digunakan untuk menurunkan hipotesis.

C. Hipotesis Penelitian
Tidak semua jenis penelitian mempunyai hipotesis. Hipotesis merupakan dugaan sementara yang selanjutnya diuji kebenarannya sesuai dengan model dan analisis yang cocok. Hipotesis penelitian dirumuskan atas dasar kerangka pikir yang merupakan jawaban sementara tas masalah yang dirumuskan.


SIKAP ILMIAH

November 28, 2007

Istilah sikap dalam bahasa Inggris disebut “Attitude” sedangkan istilah attitude sendiri berasal dari bahasa latin yakni “Aptus” yang berarti keadaan siap secara mental yang bersifat untuk melakukan kegiatan. Triandis mendefenisikan sikap sebagai : “ An  attitude ia an idea charged with emotion  which predis poses a class of actions to aparcitular class of social situation” .
Rumusan di atas diartikan bahwa sikap mengandung tiga komponen yaitu  komponen kognitif, komponen afektif dan komponen tingkah laku. Sikap selalu berkenaan dengan suatu obyek dan sikap terhadap obyek ini disertai dengan perasaan positif atau negatif. Secara umum dapat disimpulkan bahwa sikap adalah suatu kesiapan yang senantiasa cenderung untuk berprilaku atau bereaksi dengan cara tertentu bilamana diperhadapkan dengan suatu masalah atau obyek.
Menurut Baharuddin (1982:34) mengemukakan bahwa :”Sikap ilmiah pada dasarnya adalah sikap yang diperlihatkan oleh para Ilmuwan saat mereka melakukan kegiatan sebagai seorang ilmuwan. Dengan perkataan lain  kecendrungan individu  untuk bertindak atau berprilaku  dalam memecahkan suatu masalah secara sistematis melalui langkah-langkah ilmiah. Beberapa sikap ilmiah dikemukakan oleh Mukayat Brotowidjoyo (1985 :31-34) yang biasa dilakukan para ahli dalam menyelesaikan masalah berdasarkan metode ilmiah, antara ;ain :
Sikap ingin tahu : apabila menghadapi suatu masalah yang baru dikenalnya,maka ia beruasaha mengetahuinya; senang mengajukan pertanyaan tentang obyek dan peristiea; kebiasaan menggunakan alat indera  sebanyak mungkin untuk menyelidiki suatu masalah; memperlihatkan gairah dan kesungguhan dalam menyelesaikan eksprimen.
Sikap kritis :  Tidak langsung begitu saja menerima kesimpulan tanpa ada bukti yang kuat, kebiasaan menggunakan bukti – bukti pada waktu menarik kesimpulan;  Tidak merasa paling benar yang harus diikuti oleh orang lain; bersedia mengubah pendapatnya berdasarkan bukti-bukti yang kuat.
Sikap obyektif : Melihat sesuatu sebagaimana adanya obyek itu, menjauhkan bias pribadi dan tidak dikuasai oleh pikirannya sendiri. Dengan kata lain mereka dapat mengatakan secara jujur dan menjauhkan kepentingan dirinya sebagai subjek.
Sikap ingin menemukan :  Selalu memberikan saran-saran untuk eksprimen baru; kebiasaan menggunakan eksprimen-eksprimen dengan cara yang baik dan konstruktif; selalu memberikan konsultasi yang baru dari pengamatan yang dilakukannya.
Sikap menghargai karya orang lain, Tidak akan mengakui dan memandang karya orang lain sebagai karyanya, menerima kebenaran ilmiah walaupun ditemukan oleh orang atau bangsa lain.
Sikap tekun : Tidak bosan mengadakan penyelidikan, bersedia mengulangi eksprimen yang hasilnya meragukan’ tidak akan berhenti melakukan kegiatan –kegiatan apabila belum selesai; terhadap hal-hal yang ingin diketahuinya ia berusaha bekerja dengan teliti.
Sikap terbuka : Bersedia mendengarkan argumen orang lain sekalipun berbeda dengan apa yang diketahuinya.buka menerima kritikan dan respon negatif terhadap pendapatnya.
Lebih rinci Diederich mengidentifikasikan 20 komponen sikap ilmiah sebagai berikut :
Selalu meragukan sesuatu.
Percaya akan kemungkinan penyelesaian masalah.
Selalu menginginkan adanya verifikasi eksprimental.
T e k u n.
Suka pada sesuatu yang baru.
Mudah mengubah pendapat atau opini.
Loyal etrhadap kebenaran.
Objektif
Enggan mempercayai takhyul.
Menyukai penjelasan ilmiah.
Selalu berusaha melengkapi penegathuan yang dimilikinya.
Tidak tergesa-gesa mengambil keputusan.
Dapat membedakan antara hipotesis dan solusi.
Menyadari perlunya asumsi.
Pendapatnya bersifat fundamental.
Menghargai struktur teoritis
Menghargai kuantifikasi
Dapat menerima penegrtian kebolehjadian dan,
Dapat menerima pengertian generalisasi


Paradigma Berfikir

November 28, 2007

Muqaddimah

Pemikiran bagi ummat manapun adalah kekayaan yang tak ternilai harganya yang mereka miliki dalam kehidupan mereka, apabila mereka adalah ummat yang baru lahir. Bahkan, ia merupakan peninggalan yang demikian berharga yang akan diwarisi oleh generasi penerusnya, apabila ummat tersebut telah menjadi sebuah ummat yang memiliki identitas dalam bentuk pemikiran yang maju. Sedang kekayaan yang bersifat materi, penemuan-penemuan ilmiah, rekayaas industri dan lainnya, masih jauh kedudukannya dibanding dengan pemikiran. Bahkan semuanya bisa diraih melalui pemikiran semata-mata dan semata-mata bisa dilestarikan dengan pemikiran.
Dalam konteks individu, berfikir menjadi ciri yang membedakan seseorang manusia dengan makhluk lainnya.  Seorang yang berpemikiran tinggi tentu lebih dihormati daripada orang yang berpemkiran rendah. Allah SWT mengangkat beberapa derajat orang-orang yang berpemikiran tinggi (berilmu pengetahuan). Tidak kurang dari 854 ayat-ayat yang menanyakan mengapa manusia tidak mempergunakan akal, menyuruh manusia bertafakkur terhadap Al-Qur’an dan alam semesta serta menyuruh manusia mencari ilmu pengetahuan. Ini berarti, aktivitas berpikir menjadi sebuah keniscayaan dengan dilengkapinya kita oleh anugerah berupa akal. Dengan demikian, bangkitnya ummat atau manusia pada umumnya hanya dapat dicapai dengan kebangkitan berfikir.

Fakta akal (rasio) dan Proses Berfikir.
Banyak kalangan yang berusaha mendefenisikan rasio (akal) atau mengetahui fakta rasio (akal), baik pada masa lalu seperti para filosof Yunani, para pemikir muslim, ilmuwan barat, maupun pada masa sekarang ini. Namun berbagai defenisi yang mengemuka belum mampu mencapai pada pengetahuan yang meyakinkan dan pasti tentang akal.
Menurut Muh. Ismail dalam kitab Al-Fikru Al-Islamy (Bunga rampai pemikiran Islam) bahwa antara pemikiran, akal, kesadaran memiliki pengertian yang sama. Kadang-kadang digunakan kata pemikiran dan yang dimaksud adalah proses berfikir. Dapat digunakan dengan maksud hasil pemikiran, yakni suatu yang telah sampai pada manusia melalui suatu proses berfikir. Pemikiran dengan arti proses berfikir, tidak memiliki organ tubuh tertentu yang dapat ditunjuk, melainkan merupakan suatu proses yang rumit yang melibatkan empat unsur, yaitu :
Fakta yang terindera
Panca indera manusia
Otak manusia
Informasi sebelumnya yang berkaitan dengan fakta dan dimiliki manusia.
Jika keempat unsur tersebut di atas tidak terkumpul dalam suatu proses berfikir, maka pemikiran, akal dan kesadaran tidak akan pernah terwujud.

Orang-orang terdahulu telah mengalami suatu kekeliruan dalam membahas akal. Mereka mencoba berusaha menentukan tempat keberadaannya, apakah ada di kepala,di hati atau di tempat lainnya. Yang jelas, mereka menduga, bahwa akal itu memiliki organ tertentu yang bekerja secara aktif. Orang-orang modern-pun telah melakukan kekeliruan tatkala menjadikan otak sebagai tempat bersemayamnya akal, sekaligus sebagai pusat kesadaran, atau pemikiran.
Dengan demikian defenisi pemikiran, akal dan kesadaran adalah penangkapan suatu kenyataan dengan perantaraan indera ke otak disertai informasi sebelumnya tentang fakta tersebut yang berfungsi menafsirkannya. Proses ini terjadi dalam diri si pemikir yang menghasilkan pemikiran, bukan yang menerima pemikiran. Dalam diri orang yang menerima pemikiran tidak berlangsung proses ini karena pemikiran ini telah ditemukan lalu menghilang. Kemudian, si penemu itu memberikan kepada orang banyak, dan terus berpindah dikalangan manusia, yang kemudian diekspresikan dengan simbol-simbol bahasa ataupun simbol-simbol lainnya, meskipun yang paling menonjol adalah ekspresi dalam bentuk bahasa.
Dapat disimpulkan bahwa akal adalah daya berfikir untuk mengahsilkan hukum realitas dengan cara memindahkannya ke dalam otak melalui pengindraan indra terhadapnya, dengan disertai informasi awal. Sedangkan berfikir merupakan aktualisasi fungsi akal dalam menghasilkan hukum mengenai obyek indrawi atau rasional dengan kesan dan hasil yang dapat diindra.
Saat memadukan fakta yang diindera dengan informasi yang dimilikinya, pemahaman seseorang sangat dipengaruhi oleh suatu qaidah fikriyah atau landasan berfikirnya. Landasan berfikir adalah pemikiran yang paling mendasar dan menjadi aqidah seseorang. Aqidah inilah yang mendasari seluruh bentukan pemikiran seseorang.

Wallahu alam.


PEMILIHAN TOPIK, LATAR BELAKANG, DAN PERUMUSAN MASALAH

November 28, 2007

Pemilihan Topik
Topik tulisan diartikan sebagai kejadian  atau peristiwa (fenomena) yang akan dijadikan lapang penulisan. Menurut Sutrisno Hadi, terdapat empat hal yang biasa dipakai sebagai bahan pertimbangan pemilihan topik penelitian yaitu :
Topik tidak berada di luar jangkauan kemampuan  penulis/peneliti
Data dari topik mudah di dapat.
Topik cukup penting untuk ditulis/diteliti
Topik menarik untuk diteliti.
(b). Penetapan Judul
Judul Tulisan merupakan aspek utama  yang mendapat perhatian  bagi seorang pembaca dan penilai karya ilmiah, karena judul tulisan merupakan “wajah” tulisan yang akan menjadi daya tarik utama seorang pembaca.
Syarat judul yang baik adalah:
(1) dikuasai oleh peneliti
menarik perhatian peneliti
(dapat) mudah dilaksanakan
datanya dapat diperoleh
kajian pustakanya mudah diperoleh
panjang judul tidak lebih dari 20 kata atau singkat.
Bukan pernyataan yang puitis
Mencerminkan satu atau lebih permasalahan.
( c ) . Latar Belakang
Latar belakang menguraikan secara singkat (2—5 halaman) alasan-alasan mengapa penbeliti melakukan penelitian. Hal yang penting dikemukakan ialah adanya kesenjangan antara harapan (das-solen) dan kenyataan yang tampak di lapangan (das-sein), fakta-fakta atau hasil penelitian sebelumnya yang mirip dengan penelitian yang direncanakan.
Dalam latar belakang, peneliti juga dapat memaparkan rangkuman hasil bacaan berupa hasil penelitian, hasil seminar atau diskusi ilmiah, dan pengalaman peneliti sendiri yang mendukung topik penelitian. Oleh karena itu, peneliti boleh memunculkan masalah yang mungkin timbul dari topik sesuai dengan banyaknya variabel yang terkait dengan topik.
(d). Rumusan Masalah
Setiap penelitian harus mempunyai satu masalah pokok. Masalah pokok ini dapat
dikembangkan menjadi beberapa masalah khusus. Rumusan masalah dapat
dikemukakan dengan tiga cara, yaitu:
dengan kalimat tanya,
dengan kalimat pernyataan, misalnya:
dengan kalimat pernyataan yang dipertegas dengan kalimat tanya, misalnya:
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian senantiasa mencari jawaban pertanyaan atau pernyataan yang diajukan sebagai rumusan masalah. Tujuan penelitian untuk rumusan masalah di atas dapat dirumuskan sebagai berikut.
(f). Manfaat Hasil Penelitian
Idealnya, ada dua macam manfaat yang dapat diperoleh dari suatu penelitian, khususnya penelitian ilmiah, yaitu:
manfaat teoretis, bahwa  suatu penelitian ilmiah menghasilkan teori  atau
pengembangan teori bidang ilmu yang diteliti;
manfaat praktis, bahwa hasil suatu penelitian ilmiah dapat dimanfaatkan
secara langsung  oleh orang yang berkecimpung di bidang penerapan ilmu itu
dalam hal (1) bahan perbandingan antara kenyataan sehari-hari dengan
temuan itu sebagai pengetahuan, (2) membantu memecahkan masalah yang
dihadapi sehari-hari (3) menjadi pedoman kerja untuk lebih meningkatkan
profesionalisme para praktisi penerapan ilmu itu.
1.    Pengertian Istilah
Istilah yang digunakan di dalam judul penelitian diberi pengertian agar tidak ditafsirkan bermacam-macam  oleh pembaca.  Selain itu, istilah yang digunakan oleh peneliti kadang-kadang berbeda dengan pengertiannya yang dipahami secara umum. Jadi, pengertian istilah di sini lebih khusus sesuai dengan konsep yang diwakilinya di dalam bidang ilmu itu.


Paradigma Berfikir Ilmiah

November 28, 2007

Muqaddimah
Mahasuci Allah yang mempersiapkan diri kita dengan perangkat berpikir yang tidak bisa kita jiplak lagi dalam bentuk semisal microchips pada komputer secanggih apapun.. Dengan proses berpikir yang terus menerus, dan menjadikannya bagian integral dalam kehidupan kita, maka akan semakin memperjelas betapa kebesaran Sang Mahaagung tidak sanggup dinafikan. Tidak kurang dari 854 ayat-ayat yang menanyakan mengapa manusia tidak mempergunakan akal, menyuruh manusia bertafakkur terhadap Al-Qur’an dan alam semesta serta menyuruh manusia mencari ilmu pengetahuan. Ini berarti, aktivitas berpikir menjadi sebuah keniscayaan dengan dilengkapinya kita oleh anugerah berupa akal. Semua perenungan terhadap semesta itu mengarah pada apa yang disebut dengan penggalian hikmah dibalik peristiwa-peristiwa yang terjadi.
Manusia secara mutlak, adalah makhluk yang paling mulia dan utama. Sebuah ungkapan mengatakan bahwa manusia adalah lebih utama daripada malaikat. Keutamaan manusia terletak pada rasio (akal)-nya. Akal inilah yang akan mengangkat kedudukan manusia dan sekaligus menjadikannya makhluk yang paling utama. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita memiliki pengetahuan tentang akal (‘aql), Proses berfikir (tafkir), dan sekaligus metode berfikir ( thariqah at-tafkir).

Fakta akal (rasio) dan Proses Berfikir.
Banyak kalangan yang berusaha mendefenisikan rasio (akal) atau mengetahui fakta rasio (akal), baik pada masa lalu seperti para filosof Yunani, para pemikir muslim, ilmuwan barat, maupun pada masa sekarang ini. Namun berbagai defenisi yang mengemuka belum mampu mencapai pada pengetahuan yang meyakinkan dan pasti tentang akal.
Menurut Muh. Ismail dalam kitab Al-Fikru Al-Islamy (Bunga rampai pemikiran Islam) bahwa antara pemikiran, akal, kesadaran memiliki pengertian yang sama. Kadang-kadang digunakan kata pemikiran dan yang dimaksud adalah proses berfikir. Dapat digunakan dengan maksud hasil pemikiran, yakni suatu yang telah sampai pada manusia melalui suatu proses berfikir. Pemikiran dengan arti proses berfikir, tidak memiliki organ tubuh tertentu yang dapat ditunjuk, melainkan merupakan suatu proses yang rumit yang melibatkan empat unsur, yaitu :
Fakta yang terindera
Panca indera manusia
Otak manusia
Informasi sebelumnya yang berkaitan dengan fakta dan dimiliki manusia.
Jika keempat unsur tersebut di atas tidak terkumpul dalam suatu proses berfikir, maka pemikiran, akal dan kesadaran tidak akan pernah terwujud.
Orang-orang terdahulu telah mengalami suatu kekeliruan dalam membahas akal. Mereka mencoba berusaha menentukan tempat keberadaannya, apakah ada di kepala,di hati atau di tempat lainnya. Yang jelas, mereka menduga, bahwa akal itu memiliki organ tertentu yang bekerja secara aktif. Orang-orang modern-pun telah melakukan kekeliruan tatkala menjadikan otak sebagai tempat bersemayamnya akal, sekaligus sebagai pusat kesadaran, atau pemikiran.
Dengan demikian defenisi pemikiran, akal dan kesadaran adalah penangkapan suatu kenyataan dengan perantaraan indera ke otak disertai informasi sebelumnya tentang fakta tersebut yang berfungsi menafsirkannya. Proses ini terjadi dalam diri si pemikir yang menghasilkan pemikiran, bukan yang menerima pemikiran. Dalam diri orang yang menerima pemikiran tidak berlangsung proses ini karena pemikiran ini telah ditemukan lalu menghilang. Kemudian, si penemu itu memberikan kepada orang banyak, dan terus berpindah dikalangan manusia, yang kemudian diekspresikan dengan simbol-simbol bahasa ataupun simbol-simbol lainnya, meskipun yang paling menonjol adalah ekspresi dalam bentuk bahasa.

Berfikir Ilmiah
Ilmu pengetahuan telah didefenisikan dengan beberapa cara dan defenisi untuk operasional. Berfikir secara ilmiah adalah upaya untuk menemukan kenyataan dan ide yang belum diketahui sebelumnya. Ilmu merupakan proses kegiatan mencari pengetahuan melalui pengamatan berdasarkan teori dan atau generalisasi. Ilmu berusaha memahami alam sebagaimana adanya dan selanjutnya hasil kegiatan keilmuan merupakan alat untuk meramalkan dan mengendalikan gejala alam. Adapun pengetahuan adalah keseluruhan hal yang diketahui, yang membentuk persepsi tentang kebenaran atau fakta. Ilmu adalah bagian dari pengetahuan, sebaliknya setiap pengetahuan belum tentu ilmu. Untuk itu terdapat syarat-syarat yang membedakan ilmu (science)  dengan pemgetahuan (knowledge), antara lain :
Menurut Prof.Dr.Prajudi Atmosudiro, Adm. Dan Management Umum 1982, Ilmu harus ada obyeknya, terminologinya, metodologinya, filosofinya dan teorinya yang khas.
Menurut Prof.DR.Hadari Nawawi, Metode Penelitian  Bidang Sosial 1985,ilmu juga harus memiliki objek, metode, sistematika dan mesti bersifat universal.
Menurut Prof.Dr.Sondang Siagian, Filsafat Administrasi 1985, Ilmu Pengetahuan dapat didefenisikan sebagai suatu obyek ilmiah yang memiliki sekelompok prinsip, dalil, rumus yang melalui percobaan sistematis, teruji kebenarannya, prinsip-prinsip, dlil-dalil dan rumus-rumus mana dapat diajarkan dan dipelajari.
Menurut Prof.Drs.Sutrisno Hadi, Metodologi  Research 1, 1980 : Ilmu pengetahuan sebenarnya tidak lain adalah kumpulan dari pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang-orang yang dipadukan secara harmonik dalam suatu bangunan teratur.
Dari pendapat-pendapat di atas terlihat bahwa ilmu pengetahuan itu konkrit sehingga dapat diamati, dipelajari dan diajarkan secara teratur, teruji, bersifat khas atau khusus,  dalam arti mempunyai metodologi, obyek, sistematika dan teori sendiri.
Manusia senantiasa berupaya mencari tahu bagaimana cara-cara menyelesaikan masalah-masalah  kehidupannya secara efektif dan efisien, memahami fenomena-fenomena alam dan menjawab tantangan zaman. Sumber-sumber pengetahuan oleh manusia tersebut dikelompokkan atas :
Pengalaman
Otoritas
Cara berfikir deduktif
Cara berfikir induktif
Berfikir ilmiah (pendekatan ilmiah)

Ad. a. Pengalaman adalah sumber pengetahuan yang telah banyak digunakan orang. Melalui pengalaman seseorang bisa menjadi tahu tentang seluk beluk sesuatu. Sejarah misalnya menunjukkan sejak jaman nenek moyang cara memasak dipelajari tanpa disadari (contoh daging yang dimasak). Selanjutnya akan berkembang pada pemahaman informasi dari pengalaman, ditambahkan  dengan informasi, serta adanya kesempatan dan sistem trial and error (contoh mendung pertanda hujan)
Ad. b. Otoritas atau wewenang sering dijadikan pegangan orang dalam hal-hal yang tidak dapat diketahui melalui pengalaman pribadi. Orang mencari jawaban atas suatu permasalahan yang sulit melalui seseorang yang memiliki wewenang atai otoritas. Sikap tunduk kepada orang bijak yang dipercayai, sebagian besar berpengaruh selama periode pertengahan, di saat guru dan para nenek moyang waktu itu seperti Plato, Aristoteles dan pemimpin agama lebih diterima dari kepercayaan yang dilakukan berdasarkan berdasarkan observasi dan analisa kenyataan.
Ad. c. Cara berfikir deduktif diperkenalkan oleh Aristoteles, yang dirumuskan sebagai suatu proses berpikir yang bertolak dari pernyataan yang bersifat umum ke pernyataan yang bersifat khusus dengan memakai kaidah logika tertentu. Cara berfikir ini merupakan suatu sistem penyusunan fakta yang telah diketahui guna mencapai kesimpulan.   Hal ini dilakukan melalui suatu rangkaian pernyataan yang disebut silogisme yang terdiri atas :
Dasar pemikiran utama (premis mayor)
Dasar pemikiran kedua (premia minor)
Kesimpulan.
Contoh :
Semua manusia adalah makhluk hidup (Premis mayor)
Socrates adalah seoramng manusia (premis minor), karena itu
Soctares adalah makhluk hidup (konklusi)
Alasan secara deduksi, walaupun bermanfaat namun terkadang menimbulkan kesesatan. Pendekatan silogisme terbatas hanya jika dasar pemikiran benar dan pantas berhubungan dapat diketahui. Walaupun demikian, berfikir deduktif berguna dalam proses penelitian yaitu dapat memberikan sarana penghubung antara teori dan pengamatan. Peneliti dapat menarik kesimpulan berdasarkan teori yang sudah ada tentang gejala yang sebenarnya diamati.
Ad. d. Cara berfikir induktif diperkenalkan Francis Bacon (1561-1626). Ia berpendapat bahwa kita tidak boleh begitu saja menerima premis orang yang mempunyai otoritas sebagai kebenaran. Ia meyakini bahwa seorang peneliti dapat membuat simpulan umum berdasarkan fakta yang dikumpulkan melalui pengamatan langsung.
Contoh :
Induktif    : Setiap burung yang pernah diamati mempunyai sayap
Oleh karena itu, setiap burung mempunyai sayap.
Deduktif    : Setiap bangsa burung mempunyai sayap
Merpati adalah bangsa burung
Oleh karena itu, setiap merpati mempunyai sayap.
Cara berfikir deduktif di atas menunjukkan bahwa dasar pkiran utama harus diketahui terlebuh dahulu sebelum menarik kesimpulan. Sedangkan dalam berfikir induktif, kesimpulan diperoleh melalui pengamatan contoh-contoh selanjutnya dibuatlah generalisasi.

Ad. e. Berfikir Ilmiah atau pendekatan ilmiah diperkenlakan oleh Charles Darwin dengan menggabungkan aspek-aspek penting dari metode induktif dan deduktif. Dari teori Malthus tentang Populasi oleh Darwin selanjutnya mempelajari untuk menjelaskan tentang evolusi setelah menggabungkan data dengan baik. Darwin berdasarkan pada teori Malthus menarik kesimpulan bahwa datanya mungkin benar. Dia memformulasikan suatu hipotesis dari kenyataan yang telah dikatehui, kemudian menyelediki dengan lebih jauh untuk mengetahui apakah hal itu membantu kehidupan  atau membuktikan hal yang salah dengan adanya tambahan yang jelas. Metode Darwin merupakan contoh berfikir secara ilmiah yang modern.
Pendekatan ilmiah ini merupakan suatu proses penelitian yang sistematik yang terdiri dari bagian-bagian yang saling bergantung (interdependen). Pendekatan ini telah terbukti sebagai metode yang berhasil dalam memahami dunia kita yang cukup rumit ini dan dalam mengembangkan temuan-temuan baru untuk memenuhi keinginan manusia.
Dalam pendekatan ilmiah dikenal lima langkah sebagai berikut:
1.    Perumusan Masalah

Penyidikan ilmiah dimulai dari suatu masalah atau persoalan yang memerlukan pemecahan. Persoalan tersebut harus mempunyai suatu ciri penting dan dirumusan sedemikian rupa sehingga dapat dijawab dengan pengamatan dan percobaan. Persoalan yang menyangkut pilihan atau nilai-nilai tidak dapat dijawab atas dasar informasi faktual belaka. Kata-kata yang mengandung makna pertimbangan nilai hendaknya tidak dimasukkan kedalam perumusan masalah. Contoh pertanyaan “ apakah  sistem sekolah unggulan baik bagi siswa ?,tidak dapat diselidiki secara ilmiah tanpa memahami     apa arti baik bagi siswa  atau bagaimana cara mengamatu at atau mengukur “baik” itu . Pertangyaaan seperti ,  apakah siswa  yang dididik denga  sistem sekolah  inggulan akan  memperoleh skor yang lebih tinggi pada tes belajar pada siswa yang diajar dengan sistem tradisional ? inilah yang dapat diseliodiki secara ilmiah

2.    Pengajuan Hipotesis
Setelah perumusan masalah, hipotesis dirumuskan sebagai penjelasan sementara tentang masalah itu. Pada tahap ini peneliti diharuskan membaca bahan bacaan yang berkaitan dengan masalah itu dan berfikir lebih mendalam lagi.  Dengan menggunakan contoh diaatas.
Peneliti mungkin meru,uskan hipotesisnya “ siswa yang m,engajar dengan sistam sekolah unggulan    memperoleh skor tes hasil belajar lebuh tunggi darupada siswa yang belajar disekolah dengan sisrem tradisional.

3.    Cara berfikir deduktif
Melalui proses berfikir deduktif implikasi hipotesis yang diajukan dapat ditetapkan yaitu apa yang akan dapat diamati jika hipotesis tersebut benar. Jika benar bahwa dengan sistim sekolah unggulan, siswa akan memperoleh skor lebih tinggi dari pada siswa sepadan yang belajar di sekolah dengan sistem tradisional.

4.    Pengumpulan data dan analisis data
Hipotesis yang diajukan diuji dengan pengumpulan data yang ada hubungannya dengan masalah yang diselidiki melalui pengamatan, tes dan  eksperimentasi. Hasil-hasil pengamatan, tes dan eksperimentasi ini, dianalisis dengan menggunakan metode tertentu baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Metode analisis data ini biasanya dikenal dengan perhitungan-perhitungan statistik.

5.    Penerimaan dan penolakan hipotesis.
Hasil analisis data yang telah dikumpulkan, ditetapkan apakah penyelidikan memberikan bukti-bukti yang mendukung hipotesis atau tidak. Dalam pendekatan ilmiah peneliti tidak dituntu membuktikan hipotesis, tetapi menyimpulkan bahwa bikti-bukti yang diperoleh mendukung atau tidak hipotesis itu.

HAKIKAT ILMU PENGETAHUAN
Ilmu pengetahuan atau sains (science) merupakan pengetahuan yang diperoleh melalui metode ilmiah.Kata kunci disini adalah metode atau cara pemerolehan pengetahuan. Pengetahuan yang diperoleh secara kebetulan belum merupakan ilmu/sains.
Pengetahuan sehari-hari masih merupakan suatu fakta. Beberapa fakta yang dihubungkan dan diperoleh keterkaitan akan membentuk suatu konsep, yang merupakan abstraksi atay deskripsi keterkaitan antar fakta. Generalisasi konsep yang dilakukan melalui suatu metode ilmiah (scientific method) akan membentuk suatu prinsip atau teori.
Metode ilmiah adalah mekanisme atau cara mendapatkan pengetahuan dengan prosedur yang didasarkan pada suatu struktur logis yang diawali dengan perumusan masalah, pengumpulan data/informasi/fakta, analisis data, dan penarikan kesimpulan.
Inti perbedaan metode ilmiah dan non-ilmiah adalah:

Metode Ilmiah    Metode Non-Ilmiah
·1    Perumusan masalahn jelas dan spesifik
·2    Masalah merupakan hal yang dapat diamati dan diukur secara empiris.
·3    Jawaban permasalahan didasarkan pada data
·4    Proses pengumpulan dan analisis data, serta pengambilan keputusan berdasarkan logika yang benar
·5    Kesimpulan siap/terbuka untuk diuji oleh orang lain     ·1    Perumusan masalah kabur atau abstrak
·2    Masalah tidak selalu dapat diukur, dapat saja bersifat supernatural atau dogmatis
·3    Jawaban tidak diperoleh dai hasil pengamatan data lapangan
·4    Keputusan tidak didasarkan pada hasil pengumpulan dan analisis data yang logis
·5    Kesimpulan tidak dibuat untuk diuji ulang oleh orang lain

Melakukan  suatu penelitian berarti melaksanakan proses berfikir secara probabilistik dan statistik. Ini merupakan ciri seorang ilmuan atau sarjana. Setiap fenomena yang ada dihubungkan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi dan diuraikan berdasarkan fakta dan data statistik.
Bagi seorang ilmuan, suatu pernyataan perlu didukung dengan alasan-alasan atau argumentasi ilmiah yang memadai. Ia tidak begitu saja setuju dengan pernyataan tersebut  tanpa alasan yang jelas. Kalau perlu dimintanya bukti-bukti dan dibandingkan dengan teori yang ada. Oleh karena itu penelitian dapat juga dikatakan sebagai penerapan teori pada praktek kehidupan nyata. Menjadi peneliti ilmiah berarti menerima sikap ilmiah atau berfikir probabilistik.
Seorang peneliti boleh dikatakan juga sebagai pemecah masalah. Ia harus dapat memecahkan masalah dengan menggunakan metode ilmiah dengan langkah-langkah operasionalnya. Mula-mula ia mengidentifikasi masalah dengan mata pikiran yang jernih berdasarkan cipta rasa yang dimilikinya lalu merumuskan masalah secara rinci, jelas dan tersurat
Seorang peneliti memulai kegiatan ilmiahnya diawali dengan serangkaian pertanyaan yang menggugah hati sipeneliti/penulis yang mendorong timbulnya berbagai permasalahan. Dari serangkaian pertanyaan inilah dapat melahirkan suatu topik, judul ataupun rumusan masalah yang menuntut terwujudnya suatu karya ilmiah. Akan tetapi tidak semua pertanyaan/permasalahan itu perlu diteliti. Hanya masalah yang penting sajalah yang harus dicari pemecahannya. Karena itu perlu ditentukan lebih dulu masalah mana yang harus diteliti berdasarkan skala prioritas.

Usaha Manusia Mencari Kebenaran
Dalam usahanya untuk memahami lingkungannya manusia menggunakan berbagai cara. Beberapa cara tersebut adalah pengalaman, penalaran, dan penelitian. Ketiga cara tersebut tidak lepas satu sama lain, malahan saling tumpang tindih seperti terlihat kalau kita berusaha memecahkan masalah yang kompleks.
Pengalaman adalah sejumlah informasi yang telah diketahui yang mungkin dapat digunakan dalam memecahkan masalah. Salah satu diantaranya, yang biasanya selalu siap digunakan, baik oleh anak-anak maupun oleh orang dewasa adalah pengalaman pribadi, yaitu sejumlah pengetahuhan dan kerampilan yang diperoleh sebagai akibat berhubungan dengan fakta-fakta dan kejadian-kejadian dalam lingkungannya. misalnya  seseorang anak yang terampil membuat layang-layang karena sudah berkali-kali melakukannya. Begitu juga orang dewasa dapat mengantisipasi kerumitan mengurus STNK mobil, karena telah mengalami sendiri sebelumnya. Disamping pengalaman sendiri, pengalaman orang lain terutama pengalaman orang tua dapat juga dipergunakan sebagai sumber informasi. Pengalaman  orang dewasa yang diikutinya disebut model. Dalam menghadapi kesulitan, seorang anak mungkin bertanya kepada orang tuanya atau temannya yang dinilai mengetahuinya, seorang karyawan akan bertanya kepada teman kerjanya. Kalau informasi yang diperoleh tidak memenuhi harapannya, ia akan berpaling pada orang lain yang dianggapnya lebih ahli atau mempunyai otoritas. Dalam masalah mendidik anak, seorang ibu mungkin bertanya pada seorang guru atau ahli psikologi.
Penalaran ini dapat berubah penalaran deduktif,  penalaran induktif, dan gabungan antara penalaran deduktif dan induktif. Penalaran deduktif dilandasi oleh silogisme (Aristoteles). Sebuah silogisme terdiri atas sebuah premis dan sebuah konklusi. Premis yang berisi ketentuan umum disebut premis mayor, sedang premis yang berkenaan dengan ketentuan khusus, disebut premis minor. Kedua premis itu disebut pula sebagai antecedent sedang kesimpulannya disebut konsekuen. Argumen dalam silogisme itu ada yang berfungsi sebagai subjek, sebagai predikat, dan sebagai penengah. Masing-masing  bagian itu disebut term sehingga ada term subjek, term predikatdan term tengah. Untuk lebih jelasnya dikemukakan contoh klasik sbb.

“Semua manusia akan mati” (premis mayor)
“Socrates manusia” (premis minor)
“Socrates akan mati” (kesimpulan)

Yang berfungsi sebagai subjek adalah Socrates,sedang yang berfungsi sebagai prediakat adalah mati, adapun yang berfungsi sebagai term tengah, adalah manusia, sebab term manusia inilah yang menghubungkan atau sebagai penengah antara term socrates dan term mati. Suatu argumen itu dikatakan absah apabila terdapat kaitan yang pasti antara premis-premisnya dan konklusinya.
Sejarah penalaran mengalami perubahan drastis pada tahun 1600an ketika Prancis Bacon mulai meletakkan penekanan yang lebih besar pada landasan empirik ilmu pengetahuan. Karena banyaknya kecaman terhadap model penalaran deduktif dengan alasan bahwa premis mayornya kerap kali merupakan pengertian-pengertian yang dikarang sebelumnya yang mau-tidak mau akan mengakibatkan kesimpulannya menjadi berpihak, maka ia mengusulkan sebagai penggantinya cara penalaran induktif. Dengan cara berfikir ini, penyelidikan terhadap sejumlah kasus individu akan mengarah kepada suatu hipotesis yang pada akhirnya akan menjadi suatu generalisasi. Landasan berfikirnya sebagai berikut:
Bilamana seseorang mengumpulkan sejumlah data tanpa suatu fikiran yang diarahkan sebelumnya mengenai arti serta arahnya, jadi dengan mempertahankan objektifitas yang sempurna maka hubungan-hubungan yang hakiki pada kasus umum akan dapat dilihat oleh pengamat. Sumbangan Bacon yang terpenting kepada ilmu pengetahuan dari cengkraman metode deduktif yang mematikan dan membuat kemajuan ilmu pengetahuan menjadi mandeg.
Pendekatan induktif Bacon segera diikuti pendekatan induktif deduktif yagn menggabungkan metode deduktif dengan metode induktif. Baik metode deduktif maupun metode induktif memiliki kelemahan-kelemahan. Sumbangannya terhadap pengembangan ilmu pengetahuan adalah luar biasa  yang dapat digolongkan ke dalam 3 kategori:

1.Anjuran penggunaan hipotesis
2Perkembangan logis hipotesis ini
3.Penjelasan dan interpretasi penemuan-penemuan ilmiah dan sintesisnya kedalam suatu kerangka    konseptual.
Cara ketiga yang dipergunakan manusia untuk menemukan kebenaran adalah melalui penelitian. Yang dimaksud dengna penelitian adalah suatu penyelidikan secara sistematik terkontrol, empirik dan kritis mengenai proporsi-proporsi hipotesis mengenai hubungan yang diperkirakan ada antara gejala-gejala alamiah. Berbeda dengan cara-cara pemecahan masalah kehidupan yang telah dikemukakan sebelumya, penelitian memeiliki 3 ciri pokok:
1. Penelitian yang bersifat sistematis dan terkontrol, berdasarkan cara kerjanya pada metode induktif dan deduktif
2. Penelitian yang bersifat empirik artinya dalam usaha menguji kesahihan penelitian berpaling pada pengalaman.
3. Penelitian yang mengoreksi diri sendiri, artinya metode ilmiah bukan saja telah membangun mekanisme untuk melindungi peneliti dari kemungkinan membuat kesalahan sejauh yang bisa dilakukan manusia. Akan tetapi, prosedur dan hasil-hasilnya selalu terbukti untuk diperiksa oleh orang lain.

Sebagai kesimpulan dapat dikatakan bahwa penelitian merupakan perpaduan antara pengalaman dan penalaran yang harus dianggap sebagai pendekatan yang paling berhasil dalam menemukan kebenaran khususnya dalam ilmu alamiah.

Riset (research) berarti memeriksa atau mencari kembali agar dapat ditemukan kebenaran. Riset adalah penyelidikan ilmiah yang bertujuan menyediakan informasi untuk memecahkan suatu masalah. Riset juga merupakan suatu aktivitas penyelidikan dan pengujian secara teliti dan kritis dalam mencari kebenaran ilmiah. Riset juga dapat didefinisikan sebagai suatu usaha yang terorganisir dan sistematis untuk menyelidiki masalah spesifik yang memerlukan solusi.
Secara keseluruhan, rangkaian kegiatan penelitian yang dimulai dari perumusan masalah hingga penyusunan laporan dapat digambarkan dalam bagan di bawah :
Lingkup Penelitian
Topik Penelitian

Metodologi Penelitian

Pelaksanaan Penelitian

Teknik Analisis Data

Tahap I
Proses riset dimulai dari adanya permasalahan, yaitu adanya kesenjangan antara harapan dengan kenyataaan (Das sein dan Das sollen). Pengakuan adanya masalah (problem recognition), dilanjutkan dengan definisi masalah (problem definition) dan perumusan masalah (problem formulation).

Tahap II
Mengadakan survey awal, melengkapi dengan dasar teori, konsep dan pengumpulan literatur/buku-buku penunjang, pengkajian hasil penelitian sebelumnya (research review), pembanding dan penjajagan ke lapangan.

Tahap III
Membuat design riset yang berisi prosedur riset, metode penelitian, teknik analisis, perencanaan sampel dan menentukan hipotesis.

Tahap IV
Mengadakan uji coba penelitian (pilot testing). Apakah alat ukur sudah tepat, apakah kuesioner sudah valid dan reliabel. Semua alat di uji cobakan kelapangan, kuesioner disebarkan kebeberapa responden, untuk mengetahui apakah sudah dimengerti, atau memang perlu perbaikan dan lain-lain.

Tahap V
Mengumpulkan data sesungguhnya di lapangan. Penyebaran kuesioner yang sudah pasti kepada responden. Melakukan wawancara yang mendalam dan mengoleksi data-data lain yang diperlukan.

Tahap VI
Data yang sudah terkumpul akan ditabulasi dan dianalisis dengan alat-alat statistik yang sesuai, baik deskriptif maupun inferensial. Hasil pengolahan data akan diinterpretasikan, sehingga jelas apa arti dan maknanya.

Tahap VII
Membuat laporan penelitian, yang nantinya akan diseminarkan, dipublikasikan atau disebarkan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.