MASA DEPAN PENDIDIKAN NASIONAL

MASA DEPAN PENDIDIKAN NASIONAL
(Refleksi medel pendidikan yang berbasis kompetensi)
Oleh : SAIFUDDIN AL-MUGHNIY

“Globalisasi memang menjadi monster yang menakutkan
Tetapi itu harus dihadapi sebagai bagian dari proses peradaban
maka tidak jalan selain melakukan learning revolution …..untuk
menjawab tantangan globalisasi yang tak terbatas itu”

Otonomi daerah bagi konteks berbagsa dan bernegaraadalah sebuah paradigma baru dalam manajemen pemerintahan sejak tumbangnya rezim orde baru pada tanggal 21 Mei 1998. Sehingga produk Undang-Undang No. 22 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah, dan peraturan pemerintah No. 25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah daerah dengan pusat yang secara implicit telah membawa konsep Otonomi Derah itu ke dalam proses demokrasi. Dalam pengertian bahwa , pergeseran paradigma pemangunan nasional yang selama ini sangat sentarlisti maka brubah menjadi desentralisasi termasuk di dalam desentarlisasi system pendidikan nasional.
Dan memang sangat ironis ketika konsep desentarlisasi harus dimaknai hanya sekedar persolan pemerintahan dan politik serta bagaimana kewenangan antara daerah dan pusat, tetapi yang terpenting bagaimana konsep kemandirian lokal (Local Genius) itu menjadi imperium bagi terlaksananya semua system pemerintahan yang ada termasuk system pendidikan nasional itu sendiri. Sebab menurut saya ada kelemahan yang cukup mendasar selama ini di bidang nasional, yaitu adanya formulasi system pendidikan nasional yang sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai budaya lokal. Sehingga kita hanya menerima pengaruh isu global yang di hembuskan model pendidikan dari luar itu secara universal. Akibatnya, budaya itu surut terpinggirkan dan ideology pun tak mampu menjadi filter bagi arus globalisasi dan transformasi yang kian tanpa batas.
Dan perlu disadari bahwa kencangnya arus globalisasi dan komunikasi saat ini adalah merupakan jawaban yang konkrit bagi sebuah kemajuan peradaban ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebab kapitalisme pendidikan barat dewasa ini sadar atau tidak telah merambah merasuki relung budaya masyarakat lokal tanpa moral dan etika. Sebuah asumsi yang mendasar bahwa barat hari ini menjadikan manusia itu dalam konteks pendidikan adalah pasar, smentara kita yang punya peradaban ketimuran tentu menjadikan manusia itu dalam konteks pendidikan adalah bagaimana memanusiakan manusia.
Selanjutnya kelemahan berikutnya adalah, bahwa formulasi sistempendidikan nasional memang kita jauh tertinggal dari beberapa Negara tetangga kita seperti Malaysia, Singapura, dan Vietnam. Ketiga Negara tersebut sejak tahun 1998 telah menformulasikan model pendidikan nasionalnya untuk diberlakukan pada tahun 2020 mendatang. Itu artinya bahwa Negara-negara tersebut sudah menjadikan model pendidikan sebagai suatu yang patent di dalam menciptakan penguatan sumber daya manusia yang berbasis kompetensi dan berkekuatan lokal. Sementara kalau kita lihat justru kondisi system pendidikan nasional sejak lima tahun terakhir ini mengalami pasang surut dan bahkan tambal sulam di dalam melakukan formulasi termasuk di dalam proses kebijakan tentang pendidikan nasional.

Kurikulum berbasis kompetensi budaya.

Ketika isu kompetensi di gulirkan sebagai sebuah plihan alternative di dalam mengaktualkan sekaligus mengkonseptualisasikan model pendidikan nasional, justru banyak yang mengalami shock terutama tenaga edukatif yang selama ini hanya mampu melakukan sebuah transformasi ilmu pengetahuan hanya malalui gaya imla (dikte) kepada siswanya dan belum lagi di dukung cara mengajar CBSA (Catat Buku sampai Abis). Padahal konsep awalnya adalah bagaimana dengan model pendidikan CBSA itu sedapat mungkin menciptakan model pendidikan di mana siswa pro aktif di dalam proses belajar mengajar itu. Dan inipun amat sangat berat untuk melaksanakannya, sebab memangnya lemahnya potensi sumber daya yang dimiliki oleh tenaga edukatif itu.
Padahal di dalam pembukaan Undang-Undang dasar 1945 telah termaktub konsep mencerdaskan kehidupan bangsa. Itu berarti bahwa negara-bangsa dalam hal ini pemerintah mempunyai tanggungjawab besar di dalam mendorong proses pendidikan nasional itu menuju kematangan intelektual bagi peserta didik. Oleh sebab itu, isu kompetensi saat hamper berbanding lurus dengan potensi sumber daya manusia yang ada.
Kompetensi yang tentunya di pahami sebagai muatan individual baik itu tenaga edukatifnya (guru/dosennya), dimana keduanya harus mempunyai nilai lebih paling tidak ia mempunyai skill di dalam menerapkan dan menerima ilmu pengetahuan yang sementara berkembang. Bukan berarti nilai kompetensi itu menyebabkan latahnya kita menerima sains dan teknologi itu, tetapi sedapat mungkin nilai kompetensi itu adalah kepemilikan yang dipunyai oleh kedua belah pihak. Bukan lalu membuat kita Gatek (gagap Teknologi). Katakanlah bagaiaman mungkin kita bicara sumber daya manusia kalu kita tidak mempunyai kemampuan di bidang tertentu atau bahkan summer daya kita menjadi tanda Tanya untuk mendorong konseptualisasi yang berbasis kompetensi itu sendiri.
Oleh sebab itu, muatan kurikulum yang coba diterapkan di dalam membangun kemampuan intelegensi, haruslah di bangun dari khasana budaya lokal, sehingga dengan begitu kita kembali memahami karakteristik pendidikan yang berbasis kompetensi yang diinginkan, dan ini bisa menjadi medium control sekaligus menjadi landasan filosofis guna terselenggaranya konsep pendidikan yang berbasis budaya lokal. Bahkan berarti basis kompetensi itu di nafikan tetapi landasan budaya menjadi pilar utama di dalam membangun kurikulum yang berbasis kompetensi itu sendiri.
Desentralisasi pemerintah sesungguhnya sangat efktif di dalam menemukan aura pendidikan yang berbasis kompetensi budaya. Sebab kewenangan daerah di dalam mengella pendidikan memungkinkan penguatan unsure budaya di dalam meletakkan budaya sebagai fondasi filosofisnya. Artinya karakter budaya pada akhirnya menjadi basis asumsi bagi pengembangan sumber daya manusia yang berbasis lokal atau daerah. Desentralisasi pendidikan tidak berarti melepaskan kurikulum nasional, tetapi paling tidak terjadi perimbangan kekuatan kurikulum lokal dengan nasional yang signifikan. Sharing pendidikan sangat perlu di dalam rangka peningkatan sumber daya manusia yang berkualitas.
Padahal, kewenangan pemerintah dalam bidang pendidikan adalah, (1) penetapan standarkompetensi siswa dan warga belajar, (2) pengaturan kurikulum nasional, (3) penilaian hasil belajar secara nasional, (4) penyusunan pedoman pelaksanaan, (5) penetapan standar materi pelajaran pokok, penetapan kalender pendidikan, dan jumlah jam belajar efektif setiap tahun bagi pendidikan dasar, menengah dan luar sekolah. Dari kewenangan tersebut di atas dapat kita amati bahwa begitu idealnya model pendidikan yang ditawarkan tersebut, hanya saja potensi sumber daya manusia sebagai asset utama untuk itu justru mengalami tanda Tanya. Belum lagi menyangkut masalah implementasinya serta penguatan kurikulum-kurikulum lainnya.
Dan untuk merespon lebih jauh hal tersebut, desentralisasi pendidikan mutlak perlu dilaksanakan dengan berbagai macam pertimbangan antara lain, Pertama, untuk menciptakan pemerataan kesempatan ber-improvisasi dan berkreasi akan dapat meningkatkan mutu pendidikan sesuai dengan tahap kemampuan yang ada. Kedua, untuk pencapaian mutu pendidikan yang merupakan tanggungjawab secara bersama-sama antara orang tua, sekolah, lingkungan masyarakat, pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Ketiga, untuk membangun keterbukaan dan kepercayaan dalam pengelolaan pendidikan sesuai dengan otoritas masing-masing, yang kemudian dapat mensinergikan dengan cita-cita bangsa yang terintegrasi dalam budaya nasional.
Sebab kemajuan sains dan teknologi adalah salah satu ciri dari sebuah kemajuan peradaban umat manusia, mundurnya pendidikan nasional juga adalah kemunduran sebuah peradaban, sebab dengan mutu pendidikan yang berkualitas pada akhirnya akan membentuk manusia – manusia yang beradab dan bermartabat tinggi di hadapan bangsa-bangsa lain di dunia. Karena kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh mutu pendidikan yang dimilikinya. Sekalipun kita harus mengakui bahwa untuk membangun peradaban pendidikan yang konfrehensip itu sangat membutuhkan biaya yang cukup besar dan itu adalah konsekuensi logis bagi sebuah Negara yang ingin sejajar dengan bangsa – bangsa lain di dunia dalam hal mutu pendidikan nasionalnya.
Sebab fenomena pendidikan nasional kita yang belum ideal menyebabkan tingkat pengangguran yang cukup besar, jumlah anak yang putus sekolah cukup tinggi, kurangnya lapangan pekerjaan, meningkatnya tingkat kriminalitas, terbukanya ruang korupsi, tergesernya nilai-nilai humanisme dan budaya, itu semua diakibatkan oleh lemahnya mutu pendidikan nasional yang ada.
Maka menurut saya, jalan satu-satunya adalah harus diciptakan revolusi intelektual dalam rangka mengusung system pendidikan yang berbasis kompetensi dan bercirikan budaya masyarakat, sehingga dengan demikian akan terbangun karakter pendidikan nasional yang representative bagi penguatan lokal demi kemajuan sains dan teknologi, terlebih lagi kemajuan peradaban umat manusia. Insya Allah

Penulis, Pemerhati masalah pendidikan dan budaya nasional
Pembantu Dekan IV Fakultas Ekonomi UVRI Makassar.

Satu Balasan ke MASA DEPAN PENDIDIKAN NASIONAL

  1. Panitia LCEN 2008 mengatakan:

    Dengan hormat,

    Kami dari Himpunan Mahasiswa Teknik Elektro ITS akan mengadakan Lomba
    Cipta Elektroteknik Nasional (LCEN) 2008. LCEN 2008 kali ini mengangkat tema:
    ” Mewujudkan Ide Kreatif dan Kontribusi Anak Bangsa dalam Bidang Elektroteknik
    menuju Indonesia yang Mandiri”.
    Suatu ajang teknologi untuk generasi muda yang berani, kreatif, dan inovatif.
    Di ajang ini anda tidak hanya bisa berkarya tapi juga dapat menunjukkan
    karya anda kepada masyarakat.

    Kompetisi elektroteknik TERBESAR di INDONESIA ini telah 13 kali
    diadakan, yang akan memperebutkan PIALA MENDIKNAS (dalam konfirmasi).

    Oleh karena itu, dengan ini kami menantang anda untuk mengikuti
    LCEN 2008.

    LCEN 2008 ini terdiri dari dua kategori lomba, yaitu :

    – kategori mahasiswa:
    1. Bidang Telekomunikasi, Multimedia dan Informatika (Telematika)
    2. Bidang Biomedika
    3. Bidang Elektronika dan Otomasi Industri

    – kategori pelajar:
    1. Bidang Elektronika Dasar berbasis mikrokontroler
    2. Bidang Elektronika Dasar berbasis non mikrokontroler

    Tahapan lomba sebagai berikut :

    1.Tahap Pendaftaran : 29 November 2007 – 31 Januari 2008
    2.Tahap Penjurian Awal : 14 Februari – 10 Maret 2008
    3.Tahap Registrasi ulang : 12 – 19 Maret 2008
    4.Tahap Realisasi Karya : 20 Maret 2008 – 20 Mei 2008
    5.Tahap Penjurian Akhir : 21 Mei 2008

    LCEN 2008 pasti akan lebih menarik karena pada penyelenggaraan
    kali ini untuk pertama kalinya akan diadakan bersamaan dengan
    KGEI ( Kontes Game Edukasi Indonesia ) yang merupakan lomba cipta
    game edukasi TERBESAR di Indonesia. Kontes ini merupakan kerjasama 5 kementrian yang meliputi :
    Depdiknas, Depbudpar, Depkominfo, Depperind, dan Kementerian Ristek yang bertujuan
    untuk menghasilkan game edukasi yang dapat mencerdaskan anak bangsa.

    Untuk informasi LCEN lebih lanjut

    e-mail : lcen2008@lcen-its.org
    website : http://www.lcen-its.org
    friendster : http://www.friendster.com/lcen2008

    Untuk informasi KGEI lebih lanjut : http://WWW.GAME.DEPDIKNAS.ORG

    Kami tunggu karya terbaik anda…

    Hormat kami,

    Panitia LCEN 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: