MEMBANGUN MORALITAS BANGSA DI TENGAH ARUS GLOBALISASI

Di media massa cetak dan elektronik hampir setiap edisi terbitan dan penyiarannya, menyuguhkan data-data yang sangat banyak terkait dengan problematika kemasyarakatan, baik yang dialami oleh pelajar, mahasiswa, orang tua dan lain-lain. Di negeri Indonesia, yang konon katanya adalah negara agamis (walaupun bukan negara agama), justru banyak fenomena-fenomena yang terjadi dimana aspek moralitas dan nilai agama tidak lagi menjadi acuan. Persoalan kriminalitas, tawuran antar warga, penggunaan NAPZA, sikap hidup hedonis, permessif serta norma-norma, standar nilai agama telah terjadi pergeseran. Gaya hidup baru menyeruak ke tengah kehidupan sosial, keluarga dan individu, mulai dari gaya free sex, nge “drugs”, pecandu narkoba, serba apologetik, yakni seolah menjadi keharusan mengadopsi nilai-nilai dan gaya hidup di era millenium sesuai dengan semangat, muatan dan substansi era tersebut.
Fakta menunjukkan, sejak tahun 1980, kekerasan fisik dialami wanita terjadi setiap 8 detik, perkosaaan setiap 6 menit (Kompas, 4 september 1995), Lebih parah lagi banyak wanita eksekutif stress dan mengalami gangguan sosial dalam keluarga (Republika, 25 September 1995). Abortus provokatus di Jakarta terdapat 25 kasus pertahun (Kompas, 30 Nopember 1997) dan menurut seorang ginekolog 200 kasus aborsi seruap terjadi pada tahun 1980.
Sejak tahun ajaran 1999/2000, tawuran pelajar telah menewaskan 4 orang dan sedikitnya 14 cedera berat (Kompas, 29 Juli 1999). Awal tahun 1999 telah meninggal 14 orang dan 26 luka-luka; menurut data Polda Metro Jaya korban meninggal akibat tawuran antar pelajar sejak 10 tahun terakhir hingga tahun 2001 berjumlah 164 otang (Hidayatullah, Juli 2002).  Terdapat 1,3 juta pecandu narkoba dan lebih setengahnya adalah generasi muda, demikian pula pengidap penyakit HIV/AIDS hingga Januari 2000 telah mencapai angka 1080 orang, parahnya karena 38 % diantaranya generasi muda (Harian Fajar, 25 maret 2000). Sekitar 900-1200 pertahun anak belasan tahun menjadi korban perkosaaan, sekitar 60 % di bawah usia 15 tahun, dan 80,5 %  hubungan seks pertama bersama pacar disebabkan suka sama suka, serta 74,2 % perempuan jalanan berhubungan seks berganti-ganti pasangan dengan imbalan uang atau sesuap nasi (Republika, 10 Oktober 1996).  Hasil penelitian Tim Survei Ilmiah Kerohanian Islam SMF Psikologi UI (1996) menunjukkan, dari 300 responden mahasiswa seluurh fakultas UI, 49 0rang (21 %) menyetujui prilaku seksual dalam situasi pacaran, dengan perbandingan pria dan wanita hampir sama, 11,5 % dan 9,5 %. Tampaknya kesucian bukan lagi hal yang suci sehingga patut dipertahankan. Lalu apa motivasi mereka ?. Jawaban terbanyak (36,2 %) mengatakan hal itu sebagai ungkapan rasa sayang, keakraban, rasa memiliki dan perhatian. “ Dengan pacar sih, secelu dua celup bolehlah, asalkan jangan keterusan hamil”. Lucunya, 70 % dari mereka mengaku bahwa itu memang bertentangan dengan ajaran moral dan agama. Dan temuan amat mengagetkan disampaikan Direktur Eksekutif Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan, Lip Wijayanto dari hasil penelitian ternyata 97,05 % mahasiswa sudah tidak perawan karena kegiatan intercourse sex pra nikah selama kuliah. Hasil penelitian ini dilakukan terhadap 1.660 responden dan dilakukan sejak tiga tahun yaitu 16 Juli 1999 hingga Juli 2002 di Yogyakarta (Fajar, 3 Agustus 2002).
Pornografi dipandang sebagai bagian dari seni yang memiliki nilai jual tinggi (Popular, edisi cover Sophia Latjuba). Ingatan kita juga masih segar ketika ratusan siswa di Jakarta terjaring razia karena membawa VCD porno dan barang haram lainnya, kasus VCD porno dua mahasiswa perguruna tinggi di Bandung serta kasus VCD porno casting iklan sabun.
Tercatat 4432 orang menjadi pasien ketergantungan obat RSKO Dokter Sudirman (Kompas, 26 juli 1999). Virus brengsek “esek-esek” menjangkiti internet dan sangat menggoda para netter (Gatra, April 1999). Para pecinta alkoholpun didukung 116 pabrik penghasil “obat untuk teler” di 17 propinsi (Republika, 10 Oktober 1996).
Budaya Korupsi, Kolusi dan Nepotisme sudah menjadi hal biasa, bahkan Indonesia termasuk negara terkorup di dunia. Anehnya, Departemen agama yang seharusnya mengurusi agama dan pembinaan moral justru menjadi lembaga yang paling banyak terjadi penyimpangan dana dan administratif berdasarkan laporan BPKP.(Liputan 6 SCTV, 24 Juli 2002). Laporan hasil pemeriksaan semester II tahun anggaran 2001, BPK Kembali menemukan penyimpangan senilai Rp. 91,512 Triliun. Untuk KKN, negara kita memiliki “prestasi” yang cukup spektakuler. Sebuah Lembaga kosultan yang berbasis di Hongkong Polytical and Risk Consultancy (PERC) menobatkan Indonesia sebagai negara terkorup di Asia.(Jurnal Al-Wa’ie, Mei 2002). Bahkan ekonom Hartojo Wignjowinoto pernah mengungkapan, selama 30 tahun terakhir sedikitnya ada US$ 40 Miliar anggaran pembangunan masuk ke kocek pribadi  karena prilaku korupsi (Media Indonesia, 31 Maret, 2002).
Di tengah masyarakatpun sangat memprihantinkan, seperti kasus pembunuhan karena masalah sepele, tawuran antar warga/etnis, budaya sogok menyogok dan lain-lain menjadi  fenomena biasa dalam kehidupan masyarakat kita dewasa ini.  Tentunya tidak akan cukup jika data-data harus dipaparkan dalam tulisan ini bagaimana potret yang dialami saudara dan generasi kita dekade sekarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: