MENGEMBALIKAN FUNGSI IBU

Salah satu pokok dari ajaran Islam setelah perihal hidup berumah tangga adalah tentang (mendidik) anak. Dalam pandangan Islam, anak adalah anugerah yang diberikan Allah pada  orang tuanya. Kehadiran anak disebut berita baik (QS.Maryam: 7), hiburan karena mengenakkan pandangan mata (QS.Al-Furqan: 74), dan perhiasan hidup di dunia (QS.Al-Kahfi: 46). Anak juga sebagai bukti kebesaran dan kasih sayang Allah SWT, pelanjut, penerus dan pewaris orang tua, tetapi juga sekaligus ujian (At-Taghabun: 15).
Anak bukan bagai selembar kertas putih melainkan ia terlahir dengan fitrah tauhid (QS.Al-A’raaf: 172 dan QS.Ar-Ruum: 30). Barulah kemudian pengaruh lingkungan terhadap dirinya akan menentukan proses kehidupan anak selanjutnya. Rasullullah SAW bersabda:

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi” (HR. Abu Dawud).

Sebagai amanah, semua yang dilakukan orang tua terhadap anaknya (bagaimana orang tua merawat, membesarkan dan mendidiknya) akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Persoalan pendidikan anak akan terus dihadapi oleh setiap orang yang memiliki anak. Apalagi dalam masa sekarang dimana tantangan lingkungan pergaulan dan pengaruh media massa demikian besar (ditandai dengan aksi tawuran, penyalahgunaan obat-obat terlarang, pergaulan bebas dan sebagainya), maka pengetahuan tentang bagaimana konsep Islam dalam mendidik anak, kapan pendidikan seharusnya sudah dimulai, dan siapa sesungguhnya yang pertama kali berperan dalam pendidikan anak menjadi sangat penting untuk diketahui.
Dengan amat jelas Allah SWT memberikan peringatan tentang masalah tanggungjawab orang  tua terhadap anak.

“Dan hendaklah takut kepada Allah, orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah (iman, ilmu dan amal), yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka, oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”. (An-Nisaa’: 9).

“Setiap kamu adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawabannya atas apa yang telah dipercayakan kepadanya. Dan seorang ayah bertanggungjawab atas kehidupan keluarganya. Dan seorang ibu bertanggungjawab atas harta dan anak suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atasnya “ (HR. Bukhari Muslim)

Kapan Pendidikan Dimulai

Islam sangat memperhatikan pendidikan anak sejak usia dini. Hal ini dapat dilihat dari  beberapa tuntunan dalam Islam ketika menyambut kelahiran bayi. Semua tuntunan itu secara langsung merupakan proses pendidikan anak sejak dini. Perintah untuk memperdengarkan adzan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri merupakan pendidikan awal agar yang di dengar anak pertama kali adalah kalimat tauhid.

Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa diberi anak yang baru lahir, kemudian ia menyuarakan adzan pada telinga kanannya dan qamat pada telinga kirinya, maka anak yang baru lahir itu tidak akan terkena bahaya”. (HR. Al-Baihaqi)

Islam juga memberikan tuntunan untuk memberikan nama yang baik kepada anak, karena nama akan mempengaruhi harga diri seseorang. Seorang anak yang diberi nama Fatimah atau Muhammad, diharapkan akan bangga dengan nama tersebut dan berusaha untuk menjaga perilakunya agar seperti nama yang disandangnya. Secara psikologis nama akan berpengaruh pada konsep diri anak. Dalam perkembangannya, konsep diri ini akan berpengaruh pada perasaan anak tentang dirinya.

Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya pada hari kiamat nanti kamu sekalian akan dipanggil dengan nama-nama kamu sekalian dan nama-nama bapak-bapak kamu sekalian. Oleh karena itu, buatlah nama-nama yang baik untuk kamu sekalian”. (HR. Abu Daud)

Pada usia 0-7 tahun,  anak sangat membutuhkan pemeliharaan dan kasih sayang seorang ibu. Setelah anak mulai belajar berbicara, peranan ibu menjadi sangat vital. Sebab bahasa yang pertama dikenal oleh anak adalah bahasa ibu. Pada usia 6 tahun, Islam memberi tuntunan agar anak diajarkan adab sopan santun untuk membentuk akhlaqul karimah sang anak.

Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila anak telah mencapai 6 tahun, maka hendaklah diajarkan adab sopan santun” (HR. Ibnu Hibban)

Pada usia 7-10 tahun, Islam mengajarkan agar anak diberikan nasihat-nasihat yang  Islami, dan dikenalkan kewajiban-kewajibannya sebagai muslim. Sanksi juga mulai dikenalkan,  kalau memang dibutuhkan. Sabda Rasulullah SAW:

Suruhlah anakmu mengerjakan shalat pada usia 7 tahun dan pukullah pada usia 10 tahun bila mereka tidak shalat, pisahkanlah tempat tidur mereka” (HR. Al Hakim dan Abu Daud)

Pentingnya pendidikan di usia dini dibuktikan pula dengan adanya penelitian-penelitian tentang perkembangan kemampuan anak usia dini atau sering disebut dengan istilah golden age yang menakjubkan. Hasil-hasil penelitian tentang perkembangan intelektual anak menunjukkan bahwa pada usia 4 tahun anak sudah mencapai separuh dari kemampuan intelektualnya, dan pada umur 8 tahun akan mencapai 80 %. Setelah umur 8 tahun, kemampuan intelektualnya hanya dapat diubah sebanyak 20%. Selama 4 tahun pertama dari kehidupannya, perkembangan intelektual anak sama banyaknya dengan perkembangan selama 13 tahun berikut. Penemuan-penemuan baru mengenai perkembangan intelektual anak ini memberikan tanggungjawab yang besar pada orang tua khususnya ibu.
Upaya mewujudkan generasi cerdas, generasi peduli bangsa sejak usia dini sangat penting untuk mengeluarkan bangsa ini dari krisis multidimensi. Masa usia dini merupakan periode emas (golden age) bagi perkembangan anak untuk memperoleh proses pendidikan. Periode ini adalah tahun-tahun berharga bagi seorang anak untuk mengenali berbagai macam fakta di lingkungannya sebagai stimulans terhadap perkembangan psikomotor, kognitif maupun sosialnya. Periode emas ini merupakan periode kritis bagi anak, dimana perkembangan yang diperoleh pada periode ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan periode berikutnya hingga masa dewasa. Sementara masa emas ini hanya datang sekali, sehingga apabila terlewat  berarti habislah peluangnya. Untuk itu rangsangan-rangsangan dari lingkungan terdekat sangat diperlukan untuk mengoptimalkan kemampuan anak.
Rumah merupakan lingkungan terdekat anak dan tempat belajar yang paling baik buat anak. Di rumah anak bisa belajar selaras dengan keinginannya sendiri. Ia tak perlu duduk menunggu sampai bel berbunyi, tidak perlu harus bersaing dengan anak-anak lain, tidak perlu harus ketakutan menjawab salah di depan kelas, dan bisa langsung mendapatkan penghargaan atau pembetulan kalau membuat kesalahan. Disinilah peran ibu menjadi sangat penting, karena tugas utama ibu sebetulnya adalah pengatur rumah tangga dan pendidik anak. Di dalam rumah banyak sekali sarana-sarana yang bisa dipakai untuk pembelajaran anak. Anak dapat belajar banyak sekali konsep tentang benda, warna, bentuk dan sebagainya sembari ibu memasak di dapur. Anak juga dapat mengenal ciptaan Allah melalui berbagai macam makhluk hidup yang ada di sekitar rumah, mendengarkan ibu membaca doa-doa, lantunan ayat-ayat Al-Qur’an dan cerita para Nabi dan sahabat dalam suasana yang nyaman dan menyenangkan. Suasana nyaman dan menyenangkan merupakan langkah awal keberhasilan pembelajaran pada anak-anak.

Ibu Pendidik Pertama dan Utama

Tugas utama (pokok) seorang wanita adalah sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Tugas utama ini tidak bisa tergantikan, karena Allah SWT telah menetapkan bahwa wanitalah tempat “persemaian” generasi manusia dan tempat menghasilkan ASI sbg makanan terbaik di awal kehidupannya.  Hal ini harus kita pahami sebagai fungsi utama wanita dalam kehidupan ini. Sebab hal yang demikian itu tidak bisa dijalankan laki-laki. Untuk menjamin kelangsungan hidup manusia, Allah telah menetapkan beberapa hukum yang khusus buat wanita. Diantaranya hukum tentang kehamilan, kelahiran, penyusuan, pengasuhan anak dan masa iddah bagi wanita yang ditinggal suami (karena cerai/meninggal). Bahkan Allah SWT telah memberikan keringanan kepada wanita agar dia mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Seperti:
Tidak wajib bekerja mencari nafkah bagi dirinya maupun keluarganya.
Boleh berbuka puasa pada bulan Ramadhan bagi wanita hamil dan menyusui
Dan lain-lain

Semua hukum tersebut adalah untuk melindungi wanita agar tugas utamanya terlaksana dengan baik (sebagai ibu). Islam telah menempatkan wanita dengan tugasnya sebagai ibu adalah posisi yang mulia. Tanpa keikhlasan dan kerelaan seorang ibu memelihara janin yang dikandungnya selama 9 bulan, tidak akan lahir anak manusia ke bumi ini. Demikian pula dengan kerelaan dan kesabarannya ketika menyusui dan mengasuh bayinya, berperan besar terhadap pertumbuhan, perkembangan dan kesehatan anak. Posisi seorang wanita yang ridlo dengan kehamilannya sebanding (dari segi pahala) dengan seorang prajurit yang berperang di jalan Allah dan ia sedang berpuasa.
Seorang ibu memiliki peran yang sangat vital dalam proses pendidikan anak sejak dini, sebab ibu lah sosok yang pertama kali berinteraksi dengan anak, sosok pertama yang memberi rasa aman, dan sosok pertama yang dipercaya dan didengar omongannya.  Karenanya ibu menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya. Peran itu sangat menentukan kualitas generasi mendatang, termasuk kualitas masyarakat dan negaranya.  Sedemikian penting peran ibu dalam menentukan masa depan masyarakat dan negaranya, sampai kaum perempuan (ibu) tersebut diibaratkan bagai tiang negara.
Kedekatan fisik dan emosional ibu dengan anak sudah terjalin secara alamiah mulai masa mengandung, menyusui dan pengasuhan. Kasih sayang seorang ibu merupakan jaminan awal untuk tumbuh kembang anak dengan baik dan aman.  Para ahli berpendapat bahwa kedekatan fisik dan emosional merupakan aspek penting keberhasilan pendidikan.  Disinilah arti penting peran ibu terhadap pendidikan anak usia dini. Untuk menjalani peran ini Allah SWT telah memberikan potensi pada ibu berupa kemampuan untuk hamil, menyusui serta naluri keibuan. Disamping itu Allah SWT juga telah menetapkan serangkaian hukum syara’ yang memerintahkan ibu untuk menjalankan perannya sesuai dengan potensi yang telah Allah berikan. Seperti anjuran menyusui anak selama 2 tahun, mewajibkan ibu untuk mengasuh anaknya selama masa pengasuhan (hadlonah), yakni sampai anak bisa mengurus dirinya.. Hal ini akan mendorong ibu untuk melakukan semua tanggung jawabnya semata karena mematuhi perintah Allah SWT.
Sesungguhnya anak bagaikan ‘radar’ yang dapat menangkap setiap obyek yang ada di sekitarnya. Perilaku ibu adalah kesan pertama yang ditangkap anak. Apabila seorang ibu memiliki kepribadian yang agung dan tingkat ketakwaan yang tinggi maka kesan pertama yang masuk ke dalam benak anak adalah kesan yang baik. Kesan awal yang baik ini akan menjadi landasan yang kokoh bagi perkembangan kepribadian anak ke arah ideal yang diinginkan. Disamping itu anak sendiri membutuhkan figur contoh (qudwah) dalam mewujudkan nilai-nilai yang ditanamkan kepadanya selama proses belajar di masa kanak-kanak, sebab akal anak belum sempurna untuk melakukan proses berfikir. Ia belum mampu menerjemahkan sendiri wujud nilai-nilai kehidupan yang diajarkan kepadanya. Kekuatan figur ibu akan membuat anak mampu untuk menyaring apa-apa yang boleh dan tidak boleh diambil dari lingkungannya. Karena anak menjadikan apa yang diterima dari ibunya sebagai standar nilai. Figur ibu seperti ini dapat kita temui pada diri Asma’ binti Abu Bakar. Figur Asma sangat kuat mempengaruhi jiwa anaknya Abdullah bin Zubair. Para pakar ilmu pendidikan mengajarkan bahwa keteladanan adalah media pendidikan yang paling efektif dan berpengaruh dalam menyampaikan tata nilai kehidupan. Dalam hal ini ibulah orang yang paling tepat untuk berperan sebagai qudwah pertama bagi anak. Ibulah yang paling besar peranannya dalam memberi warna pada pembentukan kepribadian anak, sehingga dibutuhkan ibu yang berkualitas yang akan mampu mendidik anaknya dengan baik.
Pembinaan kepribadian, meletakkan penguasaan dasar-dasar tsaqafah Islam melalui pendidikan dan pengamalan hidup sehari-hari dipengaruhi oleh sumber belajar yang ada di keluarga yang menjadi tanggungjawab orang tua terutama ibu. Ibu adalah orang pertama yang menjadi peletak fondasi kepribadian anak. Dengan dasar aqidah yang kuat, kepribadian anak akan tercermin dari perilaku dan cara berfikirnya. Perilakunya didasarkan pada aturan Islam sebagai tolok ukur perbuatannya. Dan ajaran Islam dijadikannya sebagai landasan dalam berfikir. Seperti yang digambarkan Allah SWT dalam Surat Luqman ayat 13-19, bahwasanya pribadi seorang muslim adalah pribadi beriman, taat beribadah, berakhlaq terpuji, kuat pendirian, pandai bergaul, lemah lembut, dan mempunyai kepedulian terhadap masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan anak harus dapat menanamkan aqidah Islam secara benar. Juga pemahaman terhadap semua aspek ajaran Islam, baik yang menyangkut masalah ibadah, akhlaq, makanan, minuman, pakaian dan muamalah.
Keluarga berperan menjadi wadah pertama pembinaan ke Islaman dan sekaligus membentenginya dari pengaruh-pengaruh negatif yang berasal dari luar. Peran orang tua terutama ibu menjadi penting karena ibulah yang paling tahu bagaimana perkembangan dan kemajuan anak, baik fisik maupun mentalnya. Sejak kecil anak harus mulai dididik untuk mencintai Allah SWT dan RasulNya di atas segalanya. Keberhasilan menanamkan rasa cinta ini sangat besar peranannya untuk mengarahkan anak agar rela menjalankan perintah Allah SWT, sehingga anak tidak merasa terpaksa menjalankan kewajiban-kewajiban yang ditetapkan Allah kepadanya. Upaya menanamkan rasa cinta ini harus dilakukan dengan penuh kasih sayang. Seorang ibu diharapkan mampu melakukannya.
Kehadiran orang tua (terutama ibu) dalam perkembangan jiwa anak amat penting. Bila anak kehilangan peran dan fungsi ibunya, sehingga dalam proses tumbuh kembangnya anak kehilangan pembinaan, bimbingan, kasih sayang, perhatian dan sebagainya, maka anak akan mengalami “deprivasi maternal”. Deprivasi maternal dengan segala dampaknya dalam perkembangan dapat terjadi tidak hanya jika anak semata-mata kehilangan figur ibu secara fisik (loss), tetapi juga bisa dikarenakan tidak adanya (lack) peran ibu yang amat penting dalam proses imitasi dan identifikasi anak terhadap ibunya. Deprivasi maternal pada anak usia dini jauh lebih besar pengaruhnya dari pada anak yang lebih besar. Keadaan ini menyebabkan hubungan kasih sayang antara ibu dan anak terputus. Sering dijumpai pada anak-anak yang semacam ini suatu gangguan yang dinamakan “Attachment Dirsorder” atau “Failure to Thrive”. Pada kelainan kejiwaan semacam ini biasanya anak menunjukkan kemurungan, rasa putus asa dan tiadanya dorongan hidup. Hubungan ibu dan anak telah mengalami penyimpangan (distorsi). Pada awal perkembangan, anak memerlukan stimulasi dini yang diberikan oleh ibu melalui panca indera fungsi-fungsi mental emosional agar anak terpacu dan berkembang. Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang mengalami deprivasi maternal juga mempunyai resiko tinggi untuk menderita gangguan perkembangan kepribadiannya, yaitu perkembangan mental intelektual, mental emosional bahkan perkembangan psikososial dan spiritualnya. Tidak jarang dari mereka bila kelak telah dewasa akan memperlihatkan berbagai perilaku menyimpang, anti sosial, bahkan tindak kriminal.

Mengembalikan Fungsi Ibu sebagai Pendidik Pertama dan Utama

Banyak faktor penyebab terabaikannya peran ibu, antara lain karena sebagian ibu memutuskankan bekerja entah dengan alasan ekonomi atau sekedar mengaktualisasikan dirinya di sektor publik.  Sampai-sampai ada sebutan untuk ibu yang mampu menjalani peran ganda ini sebagai ‘super mom’.  Tapi apa yang terjadi,  kecemasan, perasaan bersalah, stres mudah muncul karena adanya konflik peran tersebut.  Misalnya saja harus tetap masuk kerja walaupun anak sedang sakit, atau terpaksa mengerjakan pekerjaan kantor ketika sedang bersantai bersama keluarga dan lain-lain.  Sementara itu ada sebagian ibu-ibu lain yang tidak bekerja tetapi tidak berkualitas dalam mendidik anak.
Terabaikannya peran ibu juga disebabkan adanya kebijakan pemerintah yang mendorong terjadinya pengabaian peran ibu. Hal ini dapat dilihat dari (1) Adanya upaya mengukur keberhasilan kesejahteraan masyarakat dengan angka partisipasi kerja ibu di luar rumah yang akhirnya menggiring para ibu berbondong-bondong ke luar rumah; kebijakan jam kerja yang sama dengan laki-laki; kebijakan cuti yang pendek sehingga tidak dapat memberikan ASI eksklusif dan lain-lain; (2) Lapangan kerja untuk laki-laki tidak cukup tersedia, sehingga peluang yang ada banyak untuk perempuan; (3) Minimnya perhatian pemerintah terhadap peningkatan kualitas ibu.
Mengingat besar dan pentingnya peran ibu dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak (termasuk dalam penentuan corak kepribadiannya), perlu diupayakan pengembalian peran ibu agar sesuai dengan fungsinya. Selain itu juga perlu diupayakan peningkatan kualitas ibu, karena tinggi rendahnya kualitas para ibu sangat mempengaruhi kualitas anak. Untuk itu terwujudnya figur ibu ideal merupakan langkah awal untuk mencetak generasi masa depan yang berkualitas. Mencetak ibu yang berkualitas bukanlah hal yang mustahil untuk diraih dan akan dapat dicapai oleh setiap ibu yang sadar akan perannya. Islam mampu membentuk ibu berkualitas yang menjadi teladan zaman, seperti ibunda Khalifah Umar bin Abdul ‘Aziz seorang khalifah yang mampu menjalankan amanahnya sebagai pemimpin dengan baik, ibunda Imam Syafi’i yang mendidik anaknya sehingga menjadi seorang mujtahid, ataupun ibunda Imam Al Bukhari seorang ahli hadits terkenal.
Kriteria ibu berkualitas yang dibutuhkan dalam mendidik anak-anak sejak dini antara lain:

Memiliki aqidah dan syakshiyyah Islamiyyah

Ibu yang memiliki aqidah yang kuat akan memiliki keyakinan bahwa anak adalah amanah Allah yang akan dimintakan pertanggungjawaban kelak di hari akhir.  Ibu yang seperti ini akan menggembleng anaknya dengan keimanan yang kokoh sejak kecil, memperkenalkan pada anak siapa Penciptanya, menghindarkan anak dari segala bentuk kesyirikan, dan mengajarkan anak untuk tunduk patuh pada  aturan Pencipta.  Sehingga anak memahami hakekat dan tujuan kehidupannya.
Firman Allah :

“Ketahuilah bahwa sesunggungnya kehidupan itu permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah diantara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan menumbuhkan tanam-tanaman yang mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya menjadi kuning, kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada azab yang keras dan ampunan dari Allah dan keridhoanNya.  Dan kehidupan dunia ini tidak lain dari kesenangan yang menipu.” (Q.S. Al-Hadid : 20)

Ibu juga harus memiliki syakhsyiyah islamiyah yang kuat yaitu berkpribadian Islam.  Artinya menjadikan aqidah Islam sebagai standar baik dalam berfikir maupun bersikap.  Ibu hanya akan menerima dan mengembangkan pemikiran-pemikiran yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam dan menjadikan anakNya menguasai pemikiran-pemikiran tersebut.  Ibu juga hanya menjadikan hukum syara’ sebagai standar dalam perbuatannya, mengerjakan apa yang diwajibkan Allah dan meninggalkan seluruh larangan Allah.  Dengan memiliki aqidah yang kuat dan kepribadian yang agung, ibu akan layak untuk dijadikan sebagai teladan bagi anak-anaknya dengan sifat-sifat seorang pendidik, antara lain:

a.    Ikhlas, dalam menjalankan proses pendidikan terhadap anaknya. Seorang ibu harus meluruskan niatnya semata karena Allah baik ketika memerintah, melarang, atau memberi hukuman. Tidak pernah seorang ibu mengharapkan balasan dari anaknya atas apa yang telah ibu berikan.
b.    Penyayang, memiliki ibu yang penyayang adalah hak pertama yang harus diterima anak karena semua anak lahir dalam keadaan rapuh dan tak berdaya. Agar mampu bertahan, ia perlu perawatan, makanan, kehangatan, keamanan. Hal ini menjadi dasar pertumbuhan kemanusiaan dan perkembangan emosional. Anak yang merasakan kasih sayang akan menunjukkan percaya diri dan kemampuan melakukan eksplorasi dunia baru dengan mudah.
c.    Memiliki bahasa yang baik, kemampuan berbahasa yang baik sangat dibutuhkan untuk merangsang aspek intelektual anak dan menumbuhkan kecenderungan naluri anak ke arah yang semestinya. Sehingga keingintahuan anak terhadap segala sesuatu bisa berkembang baik dan bisa terjawab dengan baik. Demikian pula perkembangan emosi anak bisa terkendali dan terarahkan dengan baik.

Memiliki kesadaran untuk mendidik anak-anaknya sebagai aset umat

Ibu yang baik tentu tidak hanya mendidik anaknya sekedar agar sang anak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya dan merawat orang tuanya di masa tua. Akan tetapi ia juga senantiasa mengarahkan anaknya untuk berjuang menjalankan perintah Allah yaitu beramar ma’ruf nahi munkar.  Ibu yang memiliki kesadaran yang seperti ini senantiasa memiliki kepekaan yang tinggi terhadap lingkungannya, berupaya   mengetahui apa yang terjadi dalam kehidupan masyarakat sekitarnya (minimal lingkup nasional).  Bahkan lebih dari itu ia berusaha agar mampu menguasai sebab akibat terjadinya kondisi yang ada di sekitarnya. Dengan demikian ia mampu mengetahui sejauh mana  kondisi lingkungan mempengaruhi tumbuh kembang anaknya, mampu mengantisipasi pengaruh negatif yang datang dari lingkungan tersebut, dan mampu mengarahkan anaknya ke arah yang diinginkan oleh Islam.
Sikap sang ibu yang demikian, akan mengarahkan sang anak untuk peka dan peduli terhadap lingkungannya.  Sehingga tumbuh kesadaran pada diri anak untuk ikut bertanggungjawab terhadap kondisi umat Islam dan turut memperjuangkannya agar bangkit kembali sebagai khoiru ummah.

Firman Allah :

“Kalian adalah ummat terbaik yang pernah dilahirkan bagi manusia, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar serta beriman kepada Allah. (Q.S. Al-Imron: 110)

Mengetahui dan menguasai tentang konsep pendidikan anak

Seorang ibu haruslah memiliki wawasan dan keilmuan yang tinggi. Ibu harus terus memperkaya dirinya untuk memahami perkembangan kondisi anaknya (baik aspek fisik, pikir dan nalurinya). Ia juga harus mengetahui konsep pendidikan  anak sesuai dengan tahapan perkembangannya dan program-program yang wajib ia jalankan untuk memenuhi seluruh hak-hak anak-anaknya.  Menurut seorang pakar perkembangan anak, ada beberapa konsep pendidikan yang perlu dipahami oleh ibu dalam mendidik anak-anaknya sesuai dengan tahapan perkembangannya, antara lain adalah:
d.    Bahwa setiap anak memiliki karakteristik yang berbeda sehingga perlakuan atau metode pendekatan yang dipakai untuk masing-masing anak dalam proses pembelajarannya bisa jadi berbeda.
e.    Anak akan mengalami perubahan dengan pendidikan yang diberikan dan; perubahan yang terjadi pada masing-masing anak tidak sama dan instan tetapi bertahap, maka disinilah diperlukan kesabaran dan tidak boleh membanding-bandingkan kemampuan anak
f.    Anak usia dini merupakan masa emas, yang akan dengan cepat dapat menyerap informasi. Disinilah diperlukan memasukkan pengajaran yang Islami sejak dini tanpa anak merasa terbebani (bermain sambil belajar). n Kemudian memberikan rangsangan-rangsangan yang membuat anak berupaya mengkaitkan antara informasi yang satu dengan yang lain. Dengan kata lain merangsang proses berfikirnya. Semua aspek perkembangan saling berhubungan, sehingga ibu harus memiliki pengetahuan yang menyeluruh tentang faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak, baik fisik, mental maupun spiritualnya..

Upaya Pemberdayaan Ibu (Peningkatan Kualitas Ibu)

Untuk menjadi ibu yang memiliki kualitas seperti di atas, tentunya tidak bisa didapatkan dengan hanya berdiam diri. Perlu dilakukan pembinaan secara rutin dan berkesinambungan agar para ibu memiliki aqidah dan syakhsiyah Islamiyah yang tinggi, serta  memahami cara mengasuh dan mendidik anak sesuai dengan perkembangan fisik, mental dan spiritualnya. Pembinaan para ibu ini akan mudah dilakukan jika ada  Daulah Islamiyah, karena negara akan memasukkan program peningkatan kualitas ibu ini ke dalam kurikulum sekolah bagi para calon ibu dan memaksa para calon ibu yang malas untuk ikut dalam pembinaan. Jika kurikulum di sekolah tidak mampu menciptakan calon ibu berkualitas, maka negara akan melakukan pembinaan khusus bagi para calon ibu. Selain negara, pembinaan terhadap para calon ibu bisa juga  dibantu oleh individu-individu dan organisasi-organisasi yang ada di tengah masyarakat, tetapi yang memiliki peran utama adalah negara.
Ibu sebagai pendidik pertama dalam keluarga perlu memiliki berbagai pengetahuan dan keterampilan agar mengerti dalam pengasuhan anak dan bersikap positif dalam membimbing tumbuh-kembang anak secara baik sesuai dengan tahapan perkembangannya.  Pendidikan ibu merupakan modal utama dalam mendidik anak.  Hasil penelitian Darmadji menunjukkan bahwa dalam mengasuh anak, ibu yang berpendidikan tinggi bersifat lebih terbuka terhadap hal-hal yang baru karena lebih sering membaca dan menambah pengetahuannya.  Hal ini berbeda dengan ibu yang berpendidikan rendah dengan pengetahuan dan pengertian yang terbatas mengenai kebutuhan dan perkembangan anak sehingga kurang menunjukkan pengertian dan kecenderungannya mendominir anak mereka.
Keterbatasan pendidikan dan pengetahuan orang tua terutama ibu merupakan unsur yang dapat menghambat ibu dalam melaksanakan pengasuhan anak semaksimal mungkin.  Untuk mengatasi hal itu perlu ada upaya yang dilakukan sehingga peran ibu sebagai pendidik generasi sejak dini dapat berfungsi secara baik.    Upaya peningkatan kualitas ibu melalui pembinaan yang terstruktur dan berkelanjutan perlu dilakukan.   Dengan pembinaan seperti ini diharapkan ibu-ibu dapat berperan sebagai pendidik utama bagi anak-anaknya.
Saat ini kita tidak hidup dalam Daulah Islamiyah. Kita hidup dalam sebuah negara yang tegak atas dasar sekularisme. Negara sekuler tidak akan peduli dengan peran ibu bagi terlahirnya generasi pemimpin umat, justru akan melenakan dan memanjakan ibu-ibu dengan berbagai suasana sekularistik. Dalam kondisi seperti ini, peran individu dan organisasi-organisasi kemasyarakatan dalam pembinaan para ibu justru menjadi kunci perubahan. Organisasi-organisasi masyarakaat harus mengerahkan segenap kemampuan yang ada untuk membina ibu yang akan melahirkan generasi berkualitas yang akan melakukan perubahan sosial masyarakat menuju tegaknya Daulah Islamiyyah. Ormas dan parpol tentu tidak memiliki wewenang untuk memaksa mereka, tetapi dengan kesadaran yang tinggi akan pentingnya peran ibu dalam mencetak generasi melalui pendidikan usia dini, maka akan dengan sukarela para ibu mengikuti pembinaan intensif dan berkesinambungan.

Untuk mendapatkan generasi berkualitas, generasi pemimpin tentunya harus melibatkan semua unsur pendukungnya. Dalam lingkup terkecil yaitu keluarga, selain peran ibu peran ayah juga cukup besar, sehingga diperlukan juga peningkatan kualitas ayah.  Setelah lingkup keluarga, lingkup sekolah dan masyarakat juga seharusnya kondusif untuk proses pembentukan generasi berkualitas, sehingga ada jaminan terlahirnya pemimpin yang mampu mengeluarkan bangsa ini dari krisismulti dimensi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: