Paradigma Berfikir

Muqaddimah

Pemikiran bagi ummat manapun adalah kekayaan yang tak ternilai harganya yang mereka miliki dalam kehidupan mereka, apabila mereka adalah ummat yang baru lahir. Bahkan, ia merupakan peninggalan yang demikian berharga yang akan diwarisi oleh generasi penerusnya, apabila ummat tersebut telah menjadi sebuah ummat yang memiliki identitas dalam bentuk pemikiran yang maju. Sedang kekayaan yang bersifat materi, penemuan-penemuan ilmiah, rekayaas industri dan lainnya, masih jauh kedudukannya dibanding dengan pemikiran. Bahkan semuanya bisa diraih melalui pemikiran semata-mata dan semata-mata bisa dilestarikan dengan pemikiran.
Dalam konteks individu, berfikir menjadi ciri yang membedakan seseorang manusia dengan makhluk lainnya.  Seorang yang berpemikiran tinggi tentu lebih dihormati daripada orang yang berpemkiran rendah. Allah SWT mengangkat beberapa derajat orang-orang yang berpemikiran tinggi (berilmu pengetahuan). Tidak kurang dari 854 ayat-ayat yang menanyakan mengapa manusia tidak mempergunakan akal, menyuruh manusia bertafakkur terhadap Al-Qur’an dan alam semesta serta menyuruh manusia mencari ilmu pengetahuan. Ini berarti, aktivitas berpikir menjadi sebuah keniscayaan dengan dilengkapinya kita oleh anugerah berupa akal. Dengan demikian, bangkitnya ummat atau manusia pada umumnya hanya dapat dicapai dengan kebangkitan berfikir.

Fakta akal (rasio) dan Proses Berfikir.
Banyak kalangan yang berusaha mendefenisikan rasio (akal) atau mengetahui fakta rasio (akal), baik pada masa lalu seperti para filosof Yunani, para pemikir muslim, ilmuwan barat, maupun pada masa sekarang ini. Namun berbagai defenisi yang mengemuka belum mampu mencapai pada pengetahuan yang meyakinkan dan pasti tentang akal.
Menurut Muh. Ismail dalam kitab Al-Fikru Al-Islamy (Bunga rampai pemikiran Islam) bahwa antara pemikiran, akal, kesadaran memiliki pengertian yang sama. Kadang-kadang digunakan kata pemikiran dan yang dimaksud adalah proses berfikir. Dapat digunakan dengan maksud hasil pemikiran, yakni suatu yang telah sampai pada manusia melalui suatu proses berfikir. Pemikiran dengan arti proses berfikir, tidak memiliki organ tubuh tertentu yang dapat ditunjuk, melainkan merupakan suatu proses yang rumit yang melibatkan empat unsur, yaitu :
Fakta yang terindera
Panca indera manusia
Otak manusia
Informasi sebelumnya yang berkaitan dengan fakta dan dimiliki manusia.
Jika keempat unsur tersebut di atas tidak terkumpul dalam suatu proses berfikir, maka pemikiran, akal dan kesadaran tidak akan pernah terwujud.

Orang-orang terdahulu telah mengalami suatu kekeliruan dalam membahas akal. Mereka mencoba berusaha menentukan tempat keberadaannya, apakah ada di kepala,di hati atau di tempat lainnya. Yang jelas, mereka menduga, bahwa akal itu memiliki organ tertentu yang bekerja secara aktif. Orang-orang modern-pun telah melakukan kekeliruan tatkala menjadikan otak sebagai tempat bersemayamnya akal, sekaligus sebagai pusat kesadaran, atau pemikiran.
Dengan demikian defenisi pemikiran, akal dan kesadaran adalah penangkapan suatu kenyataan dengan perantaraan indera ke otak disertai informasi sebelumnya tentang fakta tersebut yang berfungsi menafsirkannya. Proses ini terjadi dalam diri si pemikir yang menghasilkan pemikiran, bukan yang menerima pemikiran. Dalam diri orang yang menerima pemikiran tidak berlangsung proses ini karena pemikiran ini telah ditemukan lalu menghilang. Kemudian, si penemu itu memberikan kepada orang banyak, dan terus berpindah dikalangan manusia, yang kemudian diekspresikan dengan simbol-simbol bahasa ataupun simbol-simbol lainnya, meskipun yang paling menonjol adalah ekspresi dalam bentuk bahasa.
Dapat disimpulkan bahwa akal adalah daya berfikir untuk mengahsilkan hukum realitas dengan cara memindahkannya ke dalam otak melalui pengindraan indra terhadapnya, dengan disertai informasi awal. Sedangkan berfikir merupakan aktualisasi fungsi akal dalam menghasilkan hukum mengenai obyek indrawi atau rasional dengan kesan dan hasil yang dapat diindra.
Saat memadukan fakta yang diindera dengan informasi yang dimilikinya, pemahaman seseorang sangat dipengaruhi oleh suatu qaidah fikriyah atau landasan berfikirnya. Landasan berfikir adalah pemikiran yang paling mendasar dan menjadi aqidah seseorang. Aqidah inilah yang mendasari seluruh bentukan pemikiran seseorang.

Wallahu alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: