PENDIDIKAN SEKULAR MENCETAK GENERASI LEMAH

Pendahuluan
Stres yang menimpa anak-anak bisa berakibat fatal. Begitu banyak kejadian yang memprihatinkan akhir-akhir ini, termasuk anak-anak belasan tahun mencoba bunuh diri. Berdasarkan data yang dihimpun Republika, sejak Februari 2003 hingga akhir Juni 2004 telah terjadi 15 kasus bunuh diri oleh anak usia 11 hingga 17 tahun. Motif si anak melakukan percobaan bunuh diri juga beragam. Dari data itu, tujuh kasus karena faktor keluarga tidak harmonis, empat kasus karena faktor keterbatasan ekonomi, dan empat kasus belum diketahui motifnya secara pasti. Untuk faktor keluarga dan faktor ekonomi terkadang ada saling keterkaitan yang kuat.
Jika dilihat pada tahun 2003 hanya terjadi tiga kasus, maka meningkatnya angka sebanyak 11 kasus sampai bulan Juni atau pertengahan 2004 adalah suatu hal yang mencemaskan. Pada Januari 2004 muncul satu kasus, Februari dua kasus, Mei empat kasus. Lalu, pada pekan terakhir Juni ada lima kasus. Pada 15 kasus bunuh diri remaja ditemukan dua motif utama, yaitu keluarga tidak harmonis dan keterbatasan ekonomi. Pada 13 Juni lalu Miftahul Jannah, siswa yang baru lulus dari SDN Karangsemanding, Kecamatan Balongpanggang, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, mengalami depresi. Gadis 15 tahun yang akrab dipanggil Mitha ini nekat gantung diri menggunakan kain selendang di rumahnya. Ia malu tidak bisa mengikuti study tour untuk merayakan kelulusan. Mitha tidak mampu membayar biaya Rp 60 ribu untuk bergabung dengan teman-temannya. Selain masalah ekonomi, Mitha juga hidup menanggung beban masalah keluarga. Sejak usia dini Mitha sudah ditinggal kedua orang tuanya yang bercerai. Ia pun tinggal bersama kakek dan neneknya, Sami dan Weni.
Data kasus bunuh diri selengkapnya adalah sebagai berikut:
Kasus Bocah Bunuh Diri
15 Februari 2003
Kanita (15 tahun) tewas gantung diri di rumahnya, Jl Gardu PTG, Srengseng Sawah, Jakarta Selatan. Motif tidak diketahui.
25 Agustus 2003
Heryanto (12) mencoba gantung diri. Murid kelas VI SD Muara Sanding IV Garut, Jawa Barat, ini malu tidak mampu membayar biaya ekstrakurikuler senilai Rp 2.500. Dia bisa diselamatkan.
7 Oktober 2003
Murid kelas 5 SDN Bulusan 01-02 Tembalang, Semarang, Jawa Tengah, Bambang Surono (11) tewas menggantung. Motifnya tidak diketahui.
27 Januari 2004
Keinginan untuk memiliki televisi yang tak berhasil dipenuhi membuat Usuf Ambari bin Ejen (13), warga Cidaun, Cianjur, gantung diri.
8 Februari 2004
Nurdin bin Adas (12) tewas gantung diri di rumah kakaknya di Bayongbong, Garut, Jawa Barat. Diduga dia bunuh diri karena tak kuat menahan kerinduan kepada mendiang ibunya.
14 Februari 2004
Perceraian orang tuanya membuat Nazar Ali Julian (13) berpikir keras. Bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perutnya. Nazar ditolong dan dilarikan ke rumah sakit.
2 Mei 2004
Agus Suryana (13), warga Pasir Halang RT02/RW03 Cisarua-Lembang, gantung diri dengan selembar kain. Ia dilarikan ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS).
25 Mei 2004
Ihfan Khairul Fazri, siswa kelas dua SMP PGRI Setu, Bekasi, mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di kamar tidur. Motif belum bayar SPP 5 bulan.
27 Mei 2004
Karena kecewa tidak boleh menonton acara Akademi Fantasi Indosiar (AFI), Mevi Susanti (15), siswi kelas 2 SMP, nekat menenggak obat nyamuk. Dia bisa diselamatkan.
28 Mei 2004
Baroroh Barit (13), warga Kelurahan Jampiroso, Temanggung, Jawa Tengah, tergantung tewas di kamarnya. Motifnya belum jelas.
3 Juni 2004
Aman Muhammad Soleh (14), siswa kelas enam SDN 04 Karang Asin, Cikarang Utara, Bekasi, nekat menenggak dua sachet racun tikus. Siswa SD ini malu karena belum membayar uang UAN. Dia bisa diselamatkan.
9 Juni 2004
Khodijah (12), murid kelas V SD Negeri Klampok 2, Warnasari, Brebes, Jawa Tengah, membakar diri karena menganggap kedua orang tuanya terlalu galak.
13 Juni 2004
Miftakhul Jannah (12), siswa kelas enam SD Negeri Karang Malang, Gresik, tewas gantung diri di rumah neneknya, Desa Karang Malang, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Marah karena tidak diperbolehkan orang tuanya mengikuti acara rekreasi ke Malang yang akan diadakan sekolahnya.
16 Juni 2004
Mina (15), siswi kelas dua SMPN 7 Palangkaraya, Kalteng, tewas tergantung di kamar tidur. Diduga gadis tersebut gantung diri karena dilarang orang tuanya bersekolah.
21 Juni 2004
Ahmad Muzaidi (17) nekat menenggak racun serangga setelah ibunya, Sahmiwita (48), menolak membelikan motor Kawasaki Ninja sebagai hadiah kelulusan SMU. Dia bisa diselamatkan.

Menurut pakar pendidikan, Dr Arief Rahman, MPd., bunuh diri lebih disebabkan oleh individu anak. Bunuh diri merupakan gambaran keputusasaan si anak karena tidak dapat melihat peluang menyelesaikan masalah. Ini merupakan gambaran rapuhnya remaja saat ini. Lalu mengapa semua ini terjadi? Adakah solusi yang tepat untuk mengantisipasi masalah ini?

B. Pembahasan
1. Kebijakan Pendidikan yang Sekularistik
Sekularisme adalah ‘akidah’ dari ideologi kapitalisme. Ideologi ini, sebagaimana ideologi lainnya memiliki peraturan kehidupan. Sebagai sebuah ideologi, kapitalisme mempunyai ide dasar dan ide-ide cabang yang dibangun di atas akidah tersebut. Akidah yang dimaksudkan dalam hal ini dipahami sebagai pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan, serta tentang apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia, serta hubungan kehidupan dunia dengan apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia.
Di atas dasar sekularisme ini dibangunlah berbagai ide cabang dalam ideologi kapitalisme, seperti demokrasi dan liberalisme (kebebasan). Ketika agama sudah dipisahkan dari kehidupan, berarti agama dianggap tidak memiliki otoritas untuk mengatur kehidupan. Jika demikian, maka manusia itu sendirilah yang mengatur kehidupannya. Sehingga mereka menganggap dirinya paling benar hingga rela menyingkirkan aturan Allah dalam kehidupan ini.
Demokrasi membutuhkan prasyarat kebebasan, rakyat tidak dapat mengekspresikan kehendaknya dengan sempurna, baik ketika rakyat berfungsi sebagai sumber kekuasaan, maupun sebagai pemilik kedaulatan. Kebebasan ini dapat berwujud dalam kebebasan beragama, kebebasan kepemilikan, kebebasan berpendapat dan kebebasan berperilaku.
Satu hal yang esensial adalah  bahwa demokrasi dilandasi oleh prinsip jalan tengah, yaitu menjauhkan segala hal yang berbau agama dari kehidupan bernegara. Jadi wajarlah jika dalam pendidikan pun harus dipisahkan dari agama, karena pendidikan merupakan salah satu kebijakan pemerintahan untuk pengurusan rakyatnya.
Ketika agama dipandang sebagai sesuatu yang terpisah dengan pengaturan kehidupan, terutama bidang pendidikan, maka agama tidak lagi berperan sebagai pengendali motivasi manusia (driving integrating motive) atau faktor pendorong (unifying factor). Kepribadian peserta didik mengalami keguncangan citra diri (disturbance of self image) dan kepribadian yang pecah (split personality) sehingga tidak memiliki kepribadian yang islami (Asy Syakhshiyyah Al Islamiyyah).

2.  Membangun Generasi Kuat dan Berkualitas Dengan Perspektif Islam
Islam merupakan agama yang tidak saja mengatur kehidupan ritual, tetapi juga seluruh aspek kehidupan umat manusia di dunia. Kesempurnaan Islam ini telah terbukti mampu mengubah generasi yang tadinya buta huruf dan bodoh menjadi sebuah generasi utama dan pelopor kemajuan kehidupan. Bahkan mampu membangun sebuah peradaban manusia yang khas, yang menyinari hampir seluruh bangsa di dunia dan  kejayaannya bertahan lebih dari sepuluh abad.
Faktor yang paling menentukan kualitas generasi Islam adalah keimanan dan keilmuannya. Oleh karena itu, dalam sistem pendidikan generasi menurut Islam, tidak dikenal adanya dikotomi pendidikan seperti yang lazim terjadi dalam sistem hidup sekuler. Pendidikan generasi dalam pandangan Islam tidak hanya ditargetkan untuk mencapai ketinggian teknologi dan ilmu pengetahuan semata. Target utama pendidikan generasi adalah untuk mencetak generasi yang memiliki keimanan yang kokoh, lalu dengan dorongan keimanan itulah teknologi dan ilmu pengetahuan dikaji, dikuasai, dan dikembangkan. Artinya, keimanan menjadi dasar bagi keilmuan seseorang.
Gambaran generasi berkualitas dalam pandangan Islam adalah sebagai berikut:
Pertama, generasi yang berkepribadian Islam (Syakhshiyyah Islamiyah): adalah generasi yang memiliki keimanan kuat terhadap Islam (aqidah Islamiyah), dan bertekad menjadikan aqidah Islam tersebut sebagai landasan dan standar satu-satunya dalam pola berpikir (aqliyah) dan pola sikapnya (nafsiyah). Semua aktivitas dan problem dalam kehidupan, baik di dalam keluarga, masyarakat maupun negara ditata dan diselesaikan berdasarkan petunjuk syari’at Islam. Oleh karena itu, penanaman pemahaman yang utuh dan kokoh terhadap aqidah Islam menjadi penentu utama terbentuknya generasi berkualitas.
Untuk membentuk generasi yang berkepribadian Islam tentu membutuhkan pembekalan-pembekalan yang dapat mengarahkan pola pikir dan pola siakp beasaskan pada Islam. Pola pikir Islam akan terbentuk apabila pemahaman terhadap suatu fakta senantiasa dikaitkan dengan pemikiran dan pandangan Islam. Sebagai contoh, pemahaman terhadap pendidikan generasi, apa dan bagaimana tujuan, metode dan kurikulum yang harus diterapkan dan bagaimana peran keluarga, masyarakat serta negara dalam pendidikan generasi, bila didasarkan penataannya pada keimanannnya terhadap aqidah Islam, maka akan terbentuk pemikiran dan pandangan tentang pendidikan generasi yang Islami. Namun bila pemahaman dan penyelesaian persoalan pendidikan generasi didasarkan pada cara pandang (ideologi) kapitalis sekular, maka akan terlahir sistem pendidikan generasi sekular yang sangat berbeda dan bertentangan dengan Islam. Contoh secara nyata adalah fenomena dokotomi pendidikan generasi saat ini, dimana agama dipisahkan dari aspek-aspek kehidupan, termasuk dari teknologi dan ilmu pengetahuan.
Demikian pula dengan pola sikap Islami, akan terbentuk bila motivasi dalam mendidik generasi didasarkan pada keimanannya kepada Islam. Yaitu bahwa pendidikan generasi yang dilakukan bertujuan untuk mengantarkan generasi kepada derajat ketakwaan yang lebih tinggi dan menebar kemaslahatan bagi manusia. Tetapi bila motivasinya didasarkan pada cara pandang kapitalis sekular, sekalipun dia seorang muslim, akan terjebak pada dorongan untuk meraih materi dan penguasaan ilmu yang melahirkan persaingan untuk mengalahkan individu, kelompok atau bangsa yang lain. Karena dalam cara pandang kapitalis sekular, berbicara pendidikan generasi tidak lagi karena kewajiban menuntut dan mengamalkan ilmu sebagaimana yang Allah SWT perintahkan, tetapi berbicara pendidikan generasi sama seperti berbicara tentang ekonomi, hukum, politik dan lainnya yang berputar-putar pada persoalan uang, kepentingan dan kekuasaan.
Pola pikir dan pola sikap Islami ini harus senantiasa dipupuk agar kepribadian Islam seseorang selalu mencapai kesempurnaan. Faktor yang dapat mrnguatkan pola pikir Islam adalah pemahaman yang utuh terhadap Islam, melalui pengkajian terhadap ilmu-ilmu Islam, seperti: ‘Ulumul Qur’an, Tafsir Qur’an, Ushul Fiqih, Fiqih, ‘Ulumul hadits, Tarikh, dan ilmu yang berkaitan dengan sistem ekonomi, hukum, pendidikan, sosial dan politik Islam. Semakin kuat seseorang mengaitkan berbagai persoalan kehidupan dengan pemahaman Islam maka semakin tinggi pola pikir Islamnya. Oleh karena itu, dalam sistem pendidikan generasi Islam, ilmu-ilmu Islam menjadi menu pokok dalam setiap jenjang pendidikan generasi, sehingga akan mengantarkan seseorang menjadi mumpuni dalam pemahaman agamanya dan memiliki pola pikir Islam yang tinggi.
Adapun faktor yang akan menguatkan pola sikap Islam adalah pelatihan dan pembiasaan untuk memperbanyak ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, seperti sholat, puasa, membaca Al kur’an, dan lain-lain. Menyelaraskan perasaan dan hati untuk senantiasa terdorong melakukan aktivitas semata-mata meraih keridhoan Allah. Hal ini membutuhkan gemblengan dan kedisiplinan yang terus-menerus, keteladanan dari orang tua dan para pemimpin serta kontrol dari seluruh anggota masyarakat. Sehingga generasi yang terlahir akan memiliki kekuatan sikap yang diwarnai oleh aqidah Islam.
Kedua, generasi yang berjiwa pemimpin. Islam datang dengan membawa seperangkat aturan yang sempurna yang menjamin terselesaikannya seluruh problematika kehidupan manusia sampai akhir zaman. Pemikiran-pemikiran yang bersifat mendasar (menyingkap hakikat penciptaan dan kehidupan manusia dan hubungannya dengan Sang Pencipta) dan menyeluruh (meliputi seluruh jenis interaksi manusia) menjadikan Islam tidak hanya dikhususkan untuk umat Islam saja, tetapi merupakan rahmat bagi seluruh manusia dan mensejahterakan kehidupan dunia.
Karakter Islam yang demikian itulah yang mendorong umatnya untuk menyebarkan dan memperjuangkan Islam demi tegaknya Syari’at Islam di muka bumi, karena Islam tidak sekedar memperbaiki individu, tapi juga masyarakat, negara dan dunia seluruhnya. Hal ini yang menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kepemimpinan dalam diri generasi Islam. Generasi yang tidak hanya mementingkan kesenangan hidup di dunia dengan mengejar materi, bermain-main dan berhura-hura (gaya hidup materialistik hedonistik). Tetapi sebuah generasi yang serius dan sungguh-sungguh dalam memperjuangkan tegaknya Islam hingga menyinari seluruh alam. Generasi yang memberikan keteladanan dan mengajak umat manusia untuk mnegambil jalan Islam.
Generasi yang berjiwa pemimpin tampak dari tanggung jawabnya terhadap segala aktivitas dalam kehidupannya. Pemahaman Islam yang mengkristal pada dirinya mendorong untuk siap bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya. Baik pemimpin bagi dirinya, keluarganya, masyarakat, bahkan umat di seluruh dunia. Mereka mengerti benar bahwa hidupnya sarat dengan amanah dan kelak harus dipertanggung jawabkan kepada Sang Khalik, yaitu Allah SWT.
Ketiga, mampu mengarungi hidup berdasarkan aqidah Islam. Aqidah Islam menjawab semua pertanyaan mendasar dalam kehidupan manusia, yaitu dari mana manusia?, untuk apa manusia hidup di dunia ini?, dan akan kemana manusia sesudah meninggalkan dunia ini? Islam memberikan tuntunan yang sempurna, yang mampu menyelesaikan seluruh problematika hidup manusia di dunia.
Seseorang yang memahami Islam secara jernih dan mendalam akan menemukan jawaban bahwa hanya dengan aqidah Islamlah semua persoalan baik persoalan pribadi, keluarga maupun masyarakat dan dunia seluruhnya akan dapat diselesaikan dengan baik. Dengan memahami bahwa tujuan hidup manusia adalah semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT, Sang Pencipta manusia dan alam semesta, maka sudah selayaknyalah manusia harus mengatur segala aktivitas dan menyelesaikan semua problem hidupnya dengan tuntunan syari’at Allah yang sempurna yaitu Islam. Karena Islam telah menyediakan solusi yang akan mengantarkan kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat kelak.
Generasi yang mendapatkan pembinaan untuk mengokohkan aqidah Islam dalam dirinya, akan mampu mengarungi medan kehidupan dengan penuh keberanian. Tidak ada hal yang patut ditakuti kecuali murka Allah. Hidupnya hanya diabadikan kepada Allah, pantang putus asa dan menyerah pada problem atau konflik yang melanda kehidupannya.
Rasulullah SAW. Membina para sahabat di masa awal Islam dengan gemblengan keimanan hingga sepuluh tahun. Beliau menanamkan keimanan kepada Allah sebagai satu-satunya Dzat yang harus disembah menggantikan sesembahan lainnya yang sudah diwariskan turun temurun. Hal ini mengubah pola pikir para sahabat yang tadinya mengikuti apa yang dianut masyarakat dan nenek moyang mereka menjadi pengabdian hanya kepada Allah.
Dengan pemahaman hidup yang benar dan sikap hidup totalitas sesuai dengan petunjuk syariah Islam, generasi para sahabat, generasi pertama Islam ini, telah mampu mengungguli paradaban dua negara adikuasa pada waktu itu, yaitu Persia dan Romawi. Mereka melengserkan kedaulatan kerajaan Kisra Persia dan memukul mundur kekuatan Romawi hingga ke Constantinopel. Dan menyatukan berbagai bangsa di bawah panji Islam. Ini adalah bukti nyata keberhasilan pendidikan generasi berkualitas dalam perspektif Islam.
Sehingga kasus bunuh diri yang terjadi akhir-akhir ini tidak akan pernah terjadi apabila sistem pendidikannya berdasarka sistem pendidikan Islam yang menjadikan aqidah Islam sebagai satu-satunya sandaran pokok dalam pemecah berbagai problema kehidupan. Oleh karena itu, perlu adanya suatu upaya yang dapat mengantisipasi permasalahan ini, yang tidak lain adalah dengan menyadarkan berbagai pihak dan kalangan tentang pentingnya membentuk kembali generasi-generasi pemberani dan berkualitas dengan perspektif Islam.

Kesimpulan
Kasus bunuh diri pada anak-anak yang marak terjadi akhir-akhir ini menandakan kelemahan mental dan moral mereka. Kepribadian mereka telah dibentuk oleh sistem pendidikan kapitalis sekular yang melahirkan pola pikir dan pola sikap sekular. Pemisahan agama dari kehidupan, khususnya pendidikan mengakibatkan mereka bertindak sesuai aturan mereka sendiri, bukan aturan yang ditetapkan Allah. Hal ini karena agama sudah tidak dijadikan pemegang otoritas dalam pengaturan kehidupannya. Padahal Islam bukan saja mengatur aspek ritual, tetapi juga mengatur seluruh aspek kehidupan. Hal inilah yang luput dari sistem pendidikan saat ini. Sehingga akhirnya melahirkan generasi penakut, rendah mutu, lemah dan mudah putus asa. Semoga hal ini dapat menjadi renungan semua pihak, sebab ada tiga jaminan yang dapat diraih:
1.    Mencetak generasi yang berkepribadian Islam.
2.    Mencetak generasi yang berjiwa pemimpin.
3.    Mencetak generasi yang mampu mengarungi hidup berdasarkan aqidah Islam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: