PERAN BANK SYARI`AH DALAM MEMAJUKAN SEKTOR RIIL

MUKADDIMAH
Salah satu tujuan sosial ajaran Islam adalah membentuk tatanan masyarakat dalam suatu badan kerjasama dari kecendrungan untuk saling bertabrakan atau bersinggungan menjadi keseimbangan yang harmonis.  Dalam persoalan ekonomi yang memiliki daya picu yang sangat besar terhadap disintegrasi individu dan komunal, Islam telah menghadirkan sebuah konsep etika dan normatif yang bersifat total, universal dan final untuk mengawal dan mengawasi perilaku ekonomi masyarakat manusia.
Persepsi Islam dalam setiap transaksi finansial bukanlah sekedar transaksi komersial tetapi dipandang sebagai kewajiban agamais, karena sesungguhnya islam adalah agama yang dilandasi postulat iman dan ibadah.  Dalam kehidupan sehari-hari, Islam diterjemahkan dalam teori sekaligus diinterpretasikan dalam praktek.  Prinsip inilah yang menjadi menjelaskan adanya nilai-nilai Islam dalam setiap perilaku ekonomi yang nendorong tumbuhnya kesadaran permanen untuk diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat.
SISTEM EKONOMI ISLAM, SISTEM EKONOMI ALTERNATIF
Badai krisis ekonomi yang melanda Indonesia yang belum berakhir hingga kini telah memberikan suatu tinajauan spesifik akan perlunya sistem ekonomi alternatif.  Suatu sistem yang mempu mendorong pertumbuhan tetapi sekaligus pemerataan.  Tatanan sistem yang berpihak kepada semua orang, yakni suatu sistem yang memberikan kesempatan seluas-lusnya pada mekanisme pasar, tetapi tetap memberikan peran kepada pemerintah, kekuatan sosial dan hukum, untuk melakukan intervensi dan koreksi demi menjamin kekuatann ekonomi tidak terkonsentrasi kepada sekelompok kecil pengusaha, disamping mampu melakukan pemberdayaan ekonomi rakyat banyak, serta memberikan kesejahteraan lahir batin secara hakiki.  Sistem yang dimaksud adalah sistem ekonomi Islam.
Dr. Samith Athif Az-zain dalam kitab: Al-Islam khuthutun `Arhidhah: Al-Iqstihad, Al-Hukm, Al-Ijtima menjelaskan pandangan filosofis ekonomi Islam.  Ekonomi dalam Islam ditegakkan untuk mewujudkan sebesar-besarnya kesejahteraan manusia sebagai manusia yang hidup dalam masyarakat, bukan manusia sebagai individu serta bukan sebagai manusia yang terasing dalam masyarakatnya, dan di sisi lain terikat dengan seperangkat aturan/norma.  Islam bertujuan mewujudkan ketentraman hidup dan bukan sekedar pemenuhan kebutuhan, serta menjadikan perolehan kebahagiaan sebagai nilai ekonomi tertinggi yang hendak diwujudkan manusia (Q.S. 28:77).  Oleh karena itu Islam menjadikan falsafah ekonomi berhubungan dengan perintah dan larangan Allah.
Untuk mewujudkan gagasan tersebut, An-Nabhani dalam kitab An-Nidzamu Iqtishady fil Al-Islam, sistem ekonomi dalam Islam dijalankan dengan tiga azas, yakni pertama: konsep kepemilikan (Al-milkiyah), kedua: pemanfaatan kepemilikan (Al-Tsaruf fil- al milkyah), ketiga distribusi kekayaan diantara manusia (Tauzi’u al-tsarwah bayna al-naas).
PRINSIP EKONOMI ISLAM
Syariat Islam telah mmebrikan prinsip dan etika yang menjadi acuan dan referensi, serta merupakan kerangka bekerja dalam ekonomi Islam, antara lain :
Kekayaan atau berbagai jenis sumber daya adalah amanah dari Allah yang harus di manfaatkan seefisien mungkin guna memenuhi kesejahteraan dan kelak dipertanggungjawabkan di akhirat.
Islam menolak setiap penghasilan yang dipenuhi secar tidak sah apalagi usaha yang menghancurkan masyarakat.
Kekuatan penggerak utama Islam adalah kerjasama
Sitem ekonomi Islam menolak terjadinya akumulasi kekayaan pada satu atau sekelompok orang (QS. 59:7 – 8).
Islam mengatur konsep kepemilikan berupa kepemilikan individu, kepemilikan umat dan kepemilikan negara.
Dilarang makan harta sesama secara bathil, kecuali perniagaan secara suka sama suka (Q.S. 4: 29 – 30)
Dalam harta seseorang terdapat hak/bagian orang lain (Q.S. 70: 24 – 25)
Menghapuskan praktek riba (Q.S. 2: 275)
Pelaksanaan prinsip ekonomi Islam diwarnaipula dengan akhlak/etika Islam yang mengajarkan bahwa dalam melaksnakan prinsip ekonomi Islam senantiasa memiliki nilai-nilai jujur dan amanah (Q.S. 4:58); adil (QS 5:8); profesional/ihsan (QS. 67:2); saling bekerjasama/ta’awun (QS. 5:2); sabar dan tabah (QS. 2:45).
BANK SYARI’AH SEBAGAI BAGIAN KONSEP EKONOMI ISLAM
Sistem keuangan dan perbankan syari’ah merupakan bagian dari konsep ekonomi Islam secara keseluruhan guna menanamkan nilai dan etika Islam ke dalam lingkup ekonomi. Lembaga keuangan/perbankan syari’ah berperan dalam menunjang pembangunan ekonomi bangsa Indonesia, baik dalam menghimpun dana masyarakat maupun dalam penyalurannya kepada pihak yang membutuhkan.
Dalam sejarah Islam pengertian bank sendiri sebelumnya tidak dikenal. Istilah yang dipakai untuk lembaga yang melaksanakan pengarahan dana dan penyaluran dana ke dalam perekonomian masyarakat dikenal dengan istilah Baitut Tamwil (Finance House).
Baitut Tamwil memungut biaya administrasi, yaitu biaya-biaya yang betul dikeluarkan untuk operasi, serta untuk pengembangannya, lembaga mendapat sebagian keuntungan dari operasi (kegiatannya) dalam hal “bagi hasil” (al murabahah) dan al ijarah.
Dalam perkembangannya, sejak tahun 1987-1990 telah terdapat sekitar 60 lembaga keuangan syari’ah di berbagai penjuru dunia, 40 persen diantaranya menamakan dirinya Bank Islam dan 20 lainnya sebagai Islamic Investment and Finance Companies. Fakta menunjukkan pula bahwa Bank Islam tidak hanya beroperasi di negeri-negeri mayoritas Islam tetapi juga beroperasi berdampingan dengan bank konvensional seperti di Denmark, Inggris, Luxemburg, Afrika Selatan, Bahomas, Philipina dan lain-lain.
Di Indonesia, keberadaan bank syari’ah masih tergolong baru (sekitar 10 tahun) namun telah dilegitimate dan dioperasionalkan sebanding dengan bank konvensional yang berdiri jauh sebelumnya (sekitar 200 tahun) sesuai UU Perbankan Nomor 10 tahun 1998.
Adapun jenis operasi yang dijalankan bank syari’ah adalah :
Membuka rekening perseorangan dan perusahaan untuk menerima simpanan tunai baik sekedar titipan yang aman maupun investasi (al wadiah)
Memberikan kredit dan pinjaman sesuai syari’ah untuk pembiayaan proyek dan pembiayaan kebutuhan nasabah (al mudharabah)
Membeli dan menjual emas batangan (al murabahah)
Membeli dan menjual valuta asing (al murabahah)
Menerbitkan Letter of Credit (L/C) (al wakalah)
Menerbitkan surat jaminan (al kafalah)
Menyediakan pembiayaan jangka pendek (al mudharabah)
Mengumpulkan dan memproses draft, cheques, primissory notes, bill of loading dan sebagainya berdasarkan komisi (umulah/ujur)
Membeli dan menjual surat-surat berharga tanpa bunga (al murabahah)
Membentuk dana dan mengelolanya untuk keperluan tertentu (al mudharabah)
Menyediakan pembiayaan untuk investasi berdasarkan prinsip keikutsertaan yang semakin berkurang (al musyarakah muntahiq bit tamlik)
Menyediakan pembiayaan berdasarkan prinsip al musharakah (penyertaan modal)
Investasi angsung oleh bank
Sewa guna usaha, mesin, barang modal, peralatan dan sebagainya (ijarah)
Menjual dan membeli real estate (al murabahah)
Melaksanakan fungsi keagenan
Menjual dan membeli barang untuk orang lain berdasarkan keuntungan yang disetujui sebelumnya (al murabahah).
PERAN BANK SYARI’AH DALAM MEMAJUKAN SEKTOR RIIL
Aktivitas ekonomi bersinggungan dengan sektor riil, usaha manusia, manfaat, harga atas barang dan jasa maupun keuntungan yang diperoleh. Dalam perspektif Islam, aktivitas ekonomi senantiasa didorong untuk berkembangnya sektor riil seperti perdagagnan, pertanian, industri maupun jasa. Di sisi lain tidak mentolelir ektivitas ekonomi non riil seperti perdagangan uang, perbankan sistem ribawi, pasar modal dan lain-lain. Sektor non riil menyebabkan apa yang dicegah Islam, Kayla yakuuna duulatan bayna al-aghniai minkum” (QS. Al-Hasyr : 7) yaitu beredarnya uang atau harta dikalangan orang-orang kaya saja.
Ambruknya pasar bursa dunia tahun 1929 hingga pertengahan tahun 30-an yang diikuti resesi ekonomi berkepanjangan, dunia kembali dikejutkan dengan peristiwa serupa yaitu jatuhnya saham di NYSE (New York Stock Exchange) hingga 22 % hanya dalam satu hari medio Oktober 1997. Dunia dibayangi resesi ekonomi global menyusul pula terpuruknya saham-saham bursa dunia seperti Tokyo, hongkong, Singapura, Taiwan dan lain-lain.
Badai krisis ekonomi secara bersamaan menimpa beberapa negara Asia yang disebut-sebut macan Asia. Di Indonesia, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS anjlok dari Rp. 2.400,- menjadi Rp. 8.000,- bahkan mencapai kisaran Rp. 20.000,- pada April-Mei 1999.  Pendapatan perkapita Indonesia anjlok empat kali lipat yakni hanya sekitar US$ 400, menempatkan Indonesia masuk dalam daftar negara-negara miskin dan berpenghasilan rendah, sejajar dengan negara Laos (US$ 379), Nikaragua (US$ 372) serta beberapa negara Amerika Latin dan Afrika.
Fenomena di atas tidak terlepas dari konsekuensi logis dari ciri khas sistem ekonomi Kapitalis yang saat ini dianut hampir seluruh negara di dunia. Rapuhnya sistem ekonomi Kapitalis karena adanya ekonomi non riil seperti bunga (riba) dengan berbagai jenisnya, surat-surat berharga ataupun yang dikeluarkan lembaga perbankan maupun pasar bursa sebagaimana layaknya uang. Sektor eknomi non riil inilah menjadi biang keladi hancurnya sistem ekonomi Kapitalis karena pertumbuhan barang ataupun jasa yang riil tidak  sama dengan jumlah uang yang dimainkan (jumlah uang secara teori bukan fakta/riilnya) dalam roda perekonomian secara keseluruhan.  Jumlah uang yang dimainkan dalam sektor non riil sudah amat besar dan tak terhitung, padahal sektor ekonomi riil amat lambat lajunya.
Investasi dan perputaran uang dipasar bursa tidak bersentuhan secara langsung dengan roda perekonomian riil. Karena para pemain di pasar bursa membeli ataupun menjual sahamnya bukan untuk memiliki atau menginvestasikan uangnya dalam sektor riil (seperti membangun pabrik atau mengembangkan jasa rill). Tetapi ia akan memainkan dengan memanfaatkan selisih harga saham beli  dan jualnya, begitu seterusnya. Akibatnya arus uang/harta di negeri-negeri yang masih lemah pasar bursanya dengan mudah dirampas begitu saja oleh pemain asing dan dibawa keluar negeri yang pada akhirnya menggoyang sistem moneter di sebagian negeri-negeri Asia.
Dampak dari sistem moneter yang paling tampak adalah hancurnya kepercayaan terhadap nilai mata uang seiring dengan makin rendahnya nilai mata uang tersebut, yakni merosotnya nilai tukar dengan mata uang kuat dunia dengan inflasi yang tinggi.
Di masa orde baru pembangunan ekonomi hanya mengajar pertumbuhan (growth) namun mengabaikan aspek pemerataan (equty). Kebijakan ekonomi pemerintah hanya berpihak pada segelintir konglomerat dan mengabaikan ekonomi rakyat yang bergerak di sektor riil. Hal ini berakibat pada hasil pembangunan yang dinikmati sebagian kecil anggota masyarakat dan sebagian besar berada di bawah garis kemiskinan.
Dari paparan di atas, perlu ada perubahan paradigma pembangunan nasional dari paradigma trickle down effect yang hanya memihak pada segelintir pengusaha dengan strategi pemberdayaan ekonomi rakyat (lokal) dalam rangka perkonomian global, dimana rakyat sebagai obyek dan subyek pembangunan.
Bank Syari’ah memiliki peranan yang sangat penting dalam memajukan sektor riil dan membangun ekonomi kerakyatan. Hal ini karena operasionalisasi bank Syari’ah berdasar pada prinsip-prinsip:
1). Bank Syri’ah mengembangkan prinsip Ta’awum (tolong-menolong dan kerjasama     diantara masyarakat  untuk kebaikan dan kemaslahatan.
2). Bank Syari’ah berperan memasyarakatkan praktek bagi hasil untuk menhindari praktek bunga (riba). Praktek bunga mengandung ciri-ciri antara lain ditentukan secara fixed rate dari awal, dihitung dari pokok dan dan tidak berdasar untung/ rugi ,uang diinvestasikan dari semua sektor.Adapun bank syari’ah yang memiliki ciri-ciri antara lain di tentukan semua rasio nisbah bagi hasil,dihitung berdasarkan untung rugi, investasi hanya pada sektor yang halal, semakin besar keuntungan maka semakin besar pula hasilnya.
– Bank Syari’ah memandang uang hanya sebagai alat tukar dana bukan barang komoditas. Dengan demikian motif permintaan uang adalah dalam rangka memenuhi kebutuhan transaksi  (Money demand for transaction).bukan untuk spekulasi (Money demand for speculation).
– Bank Syari’ah bertanggung jawab untuk turut mensosialisasikan dan menempatkan harta/uang sebagai obyek zakat dan bukan sebagai alat ntuk mendapatkan bunga (sebagaimana praktek bank konvensional).
– Bank Syari’ah berpersn mendorong masyarakat untuk memproduktifkan harta / uang dalam kegiatan produksi (sektor riil ). Uang/ harta adalah flow-concept sehingga harus berputar dalam perekonomian dimana semakin cepat putarannya akan semakin tinggi tingkat pendapatan maupun perekonomian masyarakat. Bagi merek ayang tidak dapat memproduktifkan uangnya, islam menganjurkan untuk melakukan investasi dengan prinsip masyarakat (point financing ) atau mudharabah (full financing ) yaitu bisnis bagi hasil. Apabila tidak mau mengambil resiko dalam bermasyarakat atau bermudharabah ,maka Islam menganjurkan untuk melakukan Qard al Hasan (meminjamkan uang dengan mengharap imbalan dari Allah SWT).
Khatimah :
Menyadari urgensi implementasi ekonomi islam dalam wacana perbankan, maka diperlukan upaya bersama yang inivatif dan kontiyu.dibutuhkan sosialisasi konsep ekonomi Islam dan perbankan syari’ah dengan kerjasama pemerintah, akademi dan lembaga –lembaga islam. Disisilain, UU Bank sosial dan perbankan umum   hendakanya disempurnakan guna memberikan  pelaksana ekonomi dan perbankan islam  dan pengelola lembaga keuangan syari’ah hendakanya memeksimalkan                 .
Akhirnya,          seyogyanya seluruh umat islam memberikan dukungan dan turut serta bertanggung jawab untuk membesarkannya guna membangun ketahanan ekonomi umat/masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: