Telaah Kritis Paradigma Pendidikan

a. Potret buram pendidikan
Pendidikan sebagai media strategis pengembangan kualitas sumber daya manusia (SDM) masih terus menimbun masalah. Persoalan-persoalan rumit tetap menghadang dunia pendidikan yang berkisar pada aspek kualitas, relevansi dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan bagi seluruh rakyat. Dari segi kualitas, pendidikan kita sangat memprihatinkan, terutama pendidikan di luar Jawa yang dibandingkan dengan pendidikan di Jawa memiliki kesenjangan yang amat lebar, meskipun hal ini bukan berarti pendidikan di Jawa memiliki kualitas yang memadai.
Potret buram dunia pendidikan semakin nampak dari berbagai data seputar pendidikan kita. Laju pembangunan pendidikan di Indonesia, ternyata tidak mampu mengimbangi negara-negara tetangga. Akibatnya, jurang perbedaan mutu kian lama kian menganga. Peringkat Indonesia rendah Sebagai bukti nyata, dalam catatan Human Development Report tahun 2000 versi UNDP disebutkan bahwa peringkat Human Development Index (HDI) atau kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia berada di urutan 109. Peringkat itu jauh di bawah Filipina (77), Thailand (76), Malaysia (61), Brunei Darussalam (32), Korea Selatan (30), Singapura (24), dan juga negara-negara lain yang relatif masih baru dalam melaksanakan pembangunan bidang pendidikan nasionalnya.
Dirjen Dikti Depdinas mengungkapkan bahwa 50 % PTN di luar Jawa tidak memiliki kualifikasi layak minimal. Untuk PTS mencapai angka 90 %. PTN di pulau Jawa sebanyak 40 % layak minimal, sedangkan PTS 70 % tidak layak minimal. (Kompas, 07/2/02). Sementara laporan dari International Institute of Management Development pada tahun 2000 yang menyebutkan, dari 48 negara yang diukur, daya saing SDM Indonesia menempati urutan ke-47, sementara Thailand 34, Filipina 32, Malaysia 27, Singapura 2. Salah satu faktor penting yang menyebabkan rendahnya peringkat HDI Indonesia adalah angka partisipasi pendidikan. Data dari Balitbang Depdiknas menyebutkan angka partisipasi murni (APM) pada jenjang SD/MI 94,44, SLTP/MTs 54,81, dan SLTA 31,46. Angka yang diperoleh Indonesia itu masih lebih rendah jika dibandingkan dengan negara tetangga. Angka partisipasi kombinasi pendidikan dasar, menengah, dan tinggi Indonesia sekitar (64%), Malaysia 65%, Singapura 73%, Filipina 82%, dan Korea Selatan 90%.
Ketidakberhasilan itu juga terjadi pada program wajar sembilan tahun yang seharusnya tuntas 2003, namun karena terjadi krisis ekonomi sejak paro 1997, rencana strategis itu terpaksa diundur sampai 2010. Angka partisipasi murni SLTP baru sekitar 60% dan angka putus sekolah sangat mengkhawatirkan. Sekitar 10% angka buta huruf berasal dari penduduk Indonesia yang berusia 10 tahun ke atas. Dari hasil studi kemampuan membaca untuk tingkat SD yang dilaksanakan oleh organisasi International Educational Achievement (IEA) menunjukkan bahwa siswa SD Indonesia berada pada urutan ke-38 dari 39 negara peserta studi. Sementara untuk tingkat SLTP, studi untuk kemampuan matematika siswa Indonesia pada urutan ke-34 dari 38 negara. Untuk kemampuan IPA pada urutan ke-32 dari 38 negara peserta. Kurang seriusnya pembangunan pendidikan nasional itu juga tercermin dari kurangnya penghargaan terhadap guru. Output pendidikan hanya melahirkan pendidikan generasi sekularistik-materialistik-hedonistik, yang mengagung-agungkan materi. Dunia pendidikan lebih didominasi oleh kepentingan-kepentingan ekonomi. Pakar pendidikan modern menyatakan bahwa pendidikan sekarang tidak lebih sekedar mencetak manusia-manusia materialistik yang berorientasi kepada produksi dan konsumsi materi belaka. Hal ini diperparah dengan kebijakan-kebijakan pendidikan yang memarjinalkan peran agama dan etika. Lahirlah generasi-generasi brengsek yang jauh dari norma-norma kemanusiaan.
b. Menelusuri Klausul Masalah
Pada dasarnya, berbagai persoalan yang menjadikan ruwetnya dunia pendidikan itu berpangkal pada kesalahan paradigma dalam proses penyelenggaraan dan pembangunan dunia pendidikan di Indonesia. Kesalahan itu tampak pada tiga hal mendasar. Pertama, ketidakjelasan visi pemerintah dalam membenahi pendidikan nasional dan kekeliruan strategi yang dikembangkannya. Kedua, penanganannya yang tidak konsisten oleh orang-orang yang tidak sebenar-benarnya memahami pendidikan. Ketiga, pendekatan sekularistik yang dominan dalam pengelolaan pendidikan.
Untuk mengubah dan memperbaiki itu semua harus dilakukan pendekatan integratif dengan mengubah paradigma serta unsur-unsur pokok yang menopang tegaknya sistem pendidikan. Sehingga, pendidikan akan memenuhi hakikat tujuannya, baik dalam konteks individu, masyarakat, maupun negara
Diakui atau tidak, sistem pendidikan yang berjalan di Indonesia saat ini memang adalah sistem
pendidikan yang sekuler-materialistik.  Bila ada yang menyebutkan bahwa sistem pendidikan nasional masih mewarisi sistem pendidikan feodal, maka watak sekuler-materialistik inilah yang paling utama, yang tampak jelas pada hilangnya nilai-nilai transedental pada semua proses pendidikan, mulai dari peletakan filosofi pendidikan, penyusunan kurikulum dan materi ajar, kualifikasi pengajar, proses belajar mengajar hingga budaya sekolah/kampus sebagai hidden kurikulum, yang sebenarnya berperanan penting dalam penanaman nilai-nilai.Sistem pendidikan semacam ini terbukti telah gagal menghasilkan generasi cerdas, generasi peduli bangsa.
Sistem pendidikan sekuler-materialistik tersebut sebenarnya hanyalah merupakan bagian belaka dari sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang juga sekuler.   Dalam sistem sekuler, aturan-aturan, pandangan-pandangan dan nilai-nilai  Islam memang tidak pernah secara sengaja digunakan untuk menata berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan.  Agama Islam, sebagaimana agama dalam pengertian Barat, hanya ditempatkan dalam urusan individu dengan tuhannya saja.  Maka, ditengah-tengah sistem sekuleristik tadi lahirlah berbagai bentuk tatanan yang jauh dari nilai-nilai agama.  Yakni tatanan ekonomi yang kapitalistik, kehidupan social yang egoistik dan individualistik, sikap beragama yang sinkretistik serta paradigma pendidikan yang materialistik.
c. Solusi Fundamental
Kegagalan pendidikan sekuler-materialistik dalam membangun generasi cerdas, generasi peduli bangsa disebabkan oleh dua hal berikut :
Pertama, paradigma pendidikan yang keliru dimana dalam sistem kehidupan sekuler, asas penyelenggaraan pendidikan juga sekuler.  Tujuan pendidikan yang ditetapkan juga adalah buah dari paham sekuleristik tadi, yakni sekadar membentuk manusia-manusia yang berpaham materialistik dan serba individualistik.
Kedua, kelemahan fungsional pada tiga unsure pelaksana pendidikan, yakni : 1). Kelemahan pada lembaga pendidikan formal yang tercermin dari kacaunya kurikulum serta tidak berfungsinya guru dan lingkungan sekolah/kampus sebagai medium pendidikan sebagaimana mestinya, 2). Kehidupan keluarga yang tidak mendukung, dan 3). Keadaan masyarakat yang tidak kondusif.
Kacaunya kurikulum yang berawal dari asasnya yang sekuler tadi kemudian mempengaruhi penyusunan struktur kurikulum yang tidak memberikan ruang semestinya kepada proses penguasaan tsaqofah Islam dan pembentukan kepribadian Islam.
Pendidikan yang sekuler-materialistik memang bisa melahirkan orang yang menguasai sainsteknologi melalui “pendidikan umum” yang diikutinya, tapi pendidikan semacam itu terbukti gagal membentuk kepribadian peserta didik dan tsaqofah Islam.  Berapa banyak lulusan pendidikan umum yang tetap saja “buta agama” dan rapuh kepribadiannya?  Sementara mereka yang belajar dilingkungan “pendidikan agama”, memang menguasai tsaqofah Islam dan secara relative sisi kepribadiannya tergarap baik, tapi di sisi lain, ia buta terhadap perkembangan sains dan teknologi.  Akhirnya, sector-sektor modern (industri manufaktur, perdagangan dan jasa) diisi oleh orang-orang yang relative awam terhadap agama karena orang-orang yang mengerti agama terkumpul di dunianya sendiri (madrasah, dosen/guru agama, depag), tidak mampu terjun di sector modern.
Selain itu  kita juga melihat bahwa fungsi guru/dosen tidak berjalan sebagaimana mestinya serta rusaknya proses belajar mengajar yang tampak dari peran guru yang sekadar berfungsi sebagai pengajar dalam prose transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), tidak sebagai pendidik yang berfungsi dalam transfer ilmu pengetahuan dan kepribadian (transfer of personality), karena memang kepribadian guru/dosen sendiri banyak yang tidak lagi pantas diteladani.
Lingkungan fisik sekolah/kampus yang tidak tertata dan terkondisi secara Islami (ditambah dengan minimnya sarana pendukung, seperti masjid/mushola) turut menumbuhkan budaya tidak memacu proses pembentukan kepribadian peserta didik.  Akumulasi kelemahan pada unsure sekolah/kampus itu akhirnya menyebabkan tidak optimalnya pencapaian tujuan pendidikan yang dicita-citakan.
Begitu halnya dengan kelemahan pada unsur keluarga yang umumnya tampak dari kelalaian para orang tua untuk secara bersunguh-sungguh menanamkan dasar-dasar keislaman yang memadai kepada anaknya.  Lemahnya pengawasan terhadap pergaulan anak dan minimnya teladan dari orang tua dalam sikap keseharian terhadap anak-anaknya, makin memperparah terjadinya disfungsi rumah sebagai salah satu unsur pelaksana pendidikan.
Sementara itu masyarakat yang semestinya menjadi media pendidikan yang riil justru berperan sebaliknya akibat dari berkembangnya sistem nilai sekuler yang tampak dari penataan semua aspek kehidupan baik di bidang ekonomi, politik, termasuk tata pergaulan sehari-hari yang bebas dan acuh tak acuh pada norma agama; berita-berita pada media massa yang cenderung mempropagandakan hal-hal negative seperti pornografi dan kekerasan, serta langkanya keteladanan pada masyarakat.  Kelemahan pada unsure keluarga dan masyarakat ini pada akhirnya lebih banyak  menginjeksikan beragam pengaruh negative pada anak didik.  Maka yang terjadi kemudian adalah sinergi pengaruh negative kepada pribadi anak didik.
Oleh karena itu, penyelesaian problem pendidikan yang mendasar harus dilakukan pula secara fundamental, dan itu hanya dapat diwujudkan dengan melakukan perbaikan secara menyeluruh yang diawali dari perubahan paradigma pendidikan yang sekuler menjadi paradigma Islam.  Dan ini hanya mungkin dilakukan pada skala kebijakan oleh pemerintah bukan skala individu ataupun kelompok.  Sementara pada tataran derivatnya, kelemahan ketiga faktor di atas diselesaikan dengan cara memperbaiki strategi fungsionalnya sesuai dengan arahan Islam.

d. Penutup
Sungguh, peradaban Islam telah berhasil membuktikan kehebatan sistem pendidikan dan pengajarannya kepada dunia. Hal itu diakui oleh para pemikir Eropa yang Kristen. Sebagian besar para filosof dan pemikir-pemikir awal Eropa yang menjadi pencetus masa Renaissace adalah anak didik yang pernah mengenyam bangku-bangku sekolah di bawah naungan Khilafah Islam di Andalusia (Spanyol). Banyak di antara mereka yang tinggal dan menuntut ilmu di kota-kota Malaga, Sevilla, Pisa, Lisabon, Kartagena, dan lain-lain.
Oleh karena itu, sudah saatnya pendidikan yang berorientasi ke Barat dengan menerapkan asas sekular, kapitalis, demokratis, liberalis yang nyata-nyata kufur ditinggalkan. Sementara kembalilah pada pendidikan Islam yang terbukti mampu melahirkan ribuan ulama, pemimpin, mujahid, dan intelektual yang mengerti dan paham hukum-hukum Islam; yang takwa dan memiliki sifat tegas dan berani; serta yang selalu mengemban dakwah Islam kepada siapa pun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: