TOLAK SEKULARISASI DAN KAPITALISASI PENDIKAN

Prosesi pergantian rezim orde reformasi tahap kedua telah usai, Indonesia yang oleh para pujangga disebut sebagai zamrud khatulistiwa masih dilanda berbagai problematika dan prahara yang tak kunjung usai. Bagaikan benang kusut, berbagai masalah yang membelit ummat, sehingga tidak diketahui mana ujung pangkalnya, dan mana yang harus diuraikan dan diselesaikan, karena lilitan masalah itu terjadi hampir di semua sendi kehidupan.
Salah satu persoalan pelik yang dihadapi masyarakat saat ini adalah gagalnya sistem pendidikan. Ketika tawuran  pelajar/mahasiswa marak terjadi di berbagai kota, ditambah perilaku mereka yang tergolong kriminal, penyalahgunaan narkoba dan seks bebas dikalangan pelajar, dunia pendidikan kembali dituding sebagai pihak yang gagal membentuk watak mulia pada anak didik. Pakar pendidikan modern menyatakan bahwa pendidikan sekarang ini tidak lebih untuk mencetak manusia–manusia materialistik yang berorientasi kepada produksi dan konsumsi belaka. Belum lagi ditambah dengan kebijakan-kebijakan pendidikan yang memarginalkan peran agama dan etika dan tidak berpihak kepada rakyat.
Diakui atau tidak, sistem pendidikan yang berjalan di Indonesia saat ini memang adalah sistem pendidikan yang sekuler-materialistik. Bila ada yang menyebutkan bahwa sistem pendidikan nasional masih mewarisi sistem pendidikan feodal, maka watak sekuler-materialistik inilah yang paling utama, yang tampak jelas pada hilangnya nilai-nilai transedental pada semua proses pendidikan, mulai dari peletakan filosofi pendidikan, penyusunan kurikulum dan materi ajar, kualifikasi pengajar, proses belajar mengajar hingga budaya sekolah/kampus sebagai hidden kurikulum, yang sebenarnya berperanan penting dalam penanaman nilai-nilai. Sistem pendidikan semacam ini terbukti telah gagal menghasilkan generasi cerdas, generasi peduli bangsa.
Sistem pendidikan sekuler-materialistik tersebut sebenarnya hanyalah merupakan bagian belaka dari sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang juga sekuler.   Dalam sistem sekuler, aturan-aturan, pandangan-pandangan dan nilai-nilai  Islam memang tidak pernah secara sengaja digunakan untuk menata berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan.  Agama Islam, sebagaimana agama dalam pengertian Barat, hanya ditempatkan dalam urusan individu dengan tuhannya saja.  Maka, ditengah-tengah sistem sekuleristik tadi lahirlah berbagai bentuk tatanan yang jauh dari nilai-nilai agama.  Yakni tatanan ekonomi yang kapitalistik, kehidupan social yang egoistik dan individualistik, sikap beragama yang sinkretistik serta paradigma pendidikan yang materialistik.
Masalah lain yang muncul adalah biaya pendidikan yang mahal. Hal ini merupakan buah dari kapitalisasi pendidikan yang dialami sistem pendidikan kita. Bagi yang ingin melanjutkan sekolah ke kenjang yang lebih tinggi, karena ketidakberdayaan ekonomi, mau tidak mau mesti rela membuang jauh impiannya mengecap pendidikan yang diidamkan.  Ada dua alasan pokok mengapa sekolah-sekolah atau Perguruan Tinggi yang menetapkan biaya Pendidikan Yang Mahal:
Pertama, Subsidi pemerintah kepada sekolah/perguruan tinggi yang telah dikurangi. Pemerintah beralasan tidak mempunyai cukup dana guna menopang seluruh pembiayaan hingga pendidikan nasional agar berjalan secara optimal. Padahal negara ini memiliki kekayaan alam melimpah ruah, Kemana kekayaaan alam yang seharusnya untuk mensejahterakan rakyat?
Kedua, Dengan alasan diatas, akhirnya setiap sekolah menaikkan biaya pendidikannya. Sebab tidak ada jalan lain kecuali hanya dengan menaikkan biaya pendidikan. Kalaupun sekolah berwirausaha atau berdagang tentu akan sangat membebani. Lembaga pendidikan disatu sisi harus berkonsentrasi pada penjagaan mutu dan kualitas pendidikannya, sementara disis lain harus mengembangkan sayap bisnisnya guna menutupi biaya pendidikan.

Dampak Kapitalisasi Pendidikan
Kapitalisasi Pendidikan jelas pada akhirnya mebawa dampak yang luar biasa dalam seluruh aspek kehidupan
Pertama dinegeri muslim ini kapitalisasi pendidikan sejatinya meruapakan pelanggaran terhadap hukum syariat. Sebab dalam pandangan Islam , belajar merupakan kewajiban bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan besar atau kecil muda ataupun tua.
Kedua Pembodohan sistematis. Dengan adanya biaya tinggi dalam pendidikan akhirnya hanya orang-orang yang berduitlah yang mempunyai peluang besar mengenyam yang layak dan bermutu.Sebaliknya bagi masysrakat yang tidak mampu pendidikan akhirnya menjadi impian yang jauh di awan. Bial ini terus berlansung maka bisa dipastikan akan terjadi kesenjangan sosial.
Ketiga Pemiskinan sistematis. Bagi orang kaya biaya pendidikan semahal apapun mungkin tidak jadi maslah. Artinya orang kaya dengan kekayaannya akan mempunyai peluang untuk menyeyam pendidikan hingga tertinggi sekalipun. Denagn berbekal pendidkan tinggi mereka akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan/jabatan yang layak dalm rangka meraih kehidupan yang tinggi
Keempat Semakin terpinggirkannya golongan masyarakat yang selama ini telah terpinggirkan. Dengan kapitalisasi pendidikan masyarakatpun akhirnya beranggapan bahwa pendidikan merupakan investasi. Jika investasi ditanamkan maka harus balik modal dan menuai keuntungan.. Dari sisni bisa dimengerti jika tarif praktik dokter, tarif konsultasi gizi dan semua tarif yang terkait dengan keprofesian yang keahliannya memerlukan pendidikan tinggi dengan mengeluarkan biaya yang cukup besar akan dikenakan biaya tinggi pula.
Solusi Fundamental
Kegagalan pendidikan sekuler-materialistik dalam membangun generasi cerdas, generasi peduli bangsa disebabkan oleh dua hal berikut :

Pertama, paradigma pendidikan yang keliru dimana dalam sistem kehidupan sekuler, asas penyelenggaraan pendidikan juga sekuler.  Tujuan pendidikan yang ditetapkan juga adalah buah dari paham sekuleristik tadi, yakni sekadar membentuk manusia-manusia yang berpaham materialistik dan serba individualistik.
Kedua, kelemahan fungsional pada tiga unsure pelaksana pendidikan, yakni : 1). Kelemahan pada lembaga pendidikan formal yang tercermin dari kacaunya kurikulum serta tidak berfungsinya guru dan lingkungan sekolah/kampus sebagai medium pendidikan sebagaimana mestinya, 2). Kehidupan keluarga yang tidak mendukung, dan 3). Keadaan masyarakat yang tidak kondusif.
Kacaunya kurikulum yang berawal dari asasnya yang sekuler tadi kemudian mempengaruhi penyusunan struktur kurikulum yang tidak memberikan ruang semestinya kepada proses penguasaan tsaqofah Islam dan pembentukan kepribadian Islam.
Pendidikan yang sekuler-materialistik memang bisa melahirkan orang yang menguasai sainsteknologi melalui “pendidikan umum” yang diikutinya, tapi pendidikan semacam itu terbukti gagal membentuk kepribadian peserta didik dan tsaqofah Islam.  Berapa banyak lulusan pendidikan umum yang tetap saja “buta agama” dan rapuh kepribadiannya?  Sementara mereka yang belajar dilingkungan “pendidikan agama”, memang menguasai tsaqofah Islam dan secara relative sisi kepribadiannya tergarap baik, tapi di sisi lain, ia buta terhadap perkembangan sains dan teknologi.  Akhirnya, sector-sektor modern (industri manufaktur, perdagangan dan jasa) diisi oleh orang-orang yang relative awam terhadap agama karena orang-orang yang mengerti agama terkumpul di dunianya sendiri (madrasah, dosen/guru agama, depag), tidak mampu terjun di sector modern.
Selain itu  kita juga melihat bahwa fungsi guru/dosen tidak berjalan sebagaimana mestinya serta rusaknya proses belajar mengajar yang tampak dari peran guru yang sekadar berfungsi sebagai pengajar dalam prose transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), tidak sebagai pendidik yang berfungsi dalam transfer ilmu pengetahuan dan kepribadian (transfer of personality), karena memang kepribadian guru/dosen sendiri banyak yang tidak lagi pantas diteladani.
Lingkungan fisik sekolah/kampus yang tidak tertata dan terkondisi secara Islami (ditambah dengan minimnya sarana pendukung, seperti masjid/mushola) turut menumbuhkan budaya tidak memacu proses pembentukan kepribadian peserta didik.  Akumulasi kelemahan pada unsure sekolah/kampus itu akhirnya menyebabkan tidak optimalnya pencapaian tujuan pendidikan yang dicita-citakan.
Begitu halnya dengan kelemahan pada unsur keluarga yang umumnya tampak dari kelalaian para orang tua untuk secara bersunguh-sungguh menanamkan dasar-dasar keislaman yang memadai kepada anaknya.  Lemahnya pengawasan terhadap pergaulan anak dan minimnya teladan dari orang tua dalam sikap keseharian terhadap anak-anaknya, makin memperparah terjadinya disfungsi rumah sebagai salah satu unsur pelaksana pendidikan.
Sementara itu masyarakat yang semestinya menjadi media pendidikan yang riil justru berperan sebaliknya akibat dari berkembangnya sistem nilai sekuler yang tampak dari penataan semua aspek kehidupan baik di bidang ekonomi, politik, termasuk tata pergaulan sehari-hari yang bebas dan acuh tak acuh pada norma agama; berita-berita pada media massa yang cenderung mempropagandakan hal-hal negative seperti pornografi dan kekerasan, serta langkanya keteladanan pada masyarakat.  Kelemahan pada unsure keluarga dan masyarakat ini pada akhirnya lebih banyak  menginjeksikan beragam pengaruh negative pada anak didik.  Maka yang terjadi kemudian adalah sinergi pengaruh negative kepada pribadi anak didik.
Oleh karena itu, penyelesaian problem pendidikan yang mendasar harus dilakukan pula secara fundamental, dan itu hanya dapat diwujudkan dengan melakukan perbaikan secara menyeluruh yang diawali dari perubahan paradigma pendidikan yang sekuler menjadi paradigma Islam.  Dan ini hanya mungkin dilakukan pada skala kebijakan oleh pemerintah bukan skala individu ataupun kelompok.  Sementara pada tataran derivatnya, kelemahan ketiga faktor di atas diselesaikan dengan cara memperbaiki strategi fungsionalnya sesuai dengan arahan Islam.

Penutup
Sungguh, peradaban Islam telah berhasil membuktikan kehebatan sistem pendidikan dan pengajarannya kepada dunia. Hal itu diakui oleh para pemikir Eropa yang Kristen. Sebagian besar para filosof dan pemikir-pemikir awal Eropa yang menjadi pencetus masa Renaissace adalah anak didik yang pernah mengenyam bangku-bangku sekolah di bawah naungan Khilafah Islam di Andalusia (Spanyol). Banyak di antara mereka yang tinggal dan menuntut ilmu di kota-kota Malaga, Sevilla, Pisa, Lisabon, Kartagena, dan lain-lain.
Oleh karena itu, sudah saatnya pendidikan yang berorientasi ke Barat dengan menerapkan asas sekular, kapitalis, demokratis, liberalis yang nyata-nyata kufur ditinggalkan. Sementara kembalilah pada pendidikan Islam yang terbukti mampu melahirkan ribuan ulama, pemimpin, mujahid, dan intelektual yang mengerti dan paham hukum-hukum Islam; yang takwa dan memiliki sifat tegas dan berani; serta yang selalu mengemban dakwah Islam kepada siapa pun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: