Tonggak Hari Jadi Kota Makassar

Uraian teori dan konsep tentang Makassar sebelumnya telah menjembatani penelusuran  tonggak hari jadi kota Makassar yang berawal dari peristiwa penerimaan Islam sebagai agama resmi kerajaan Gowa dan Tallo.
Pakar sejarah menyebutkan bahwa sesungguhnya agama Islam sudah sampai di Makassar sejak kepemimpinan raja Gowa ke-10 Tunipalangga (1546-1565), ketika raja memberi ijin kepada pedagang-pedagang melayu menetap di Somba Opu.
Sementara itu dalam Lontara Makassar diperoleh keterangan bahwa sebelum permulaan abad ke XVII sudah terdapat pemuka agama Islam dikalangan orang Makassar yang menerima Islam dari Demak, ataupun dari Malaka dan Ternate.
Raja Gowa dan Tallo mula-mula menerima Islam dengan resmi sebagai agamanya. Raja Tallo “Malingkang Daeng Manyonri, Karaeng  M. Tumenanga ri Bonto Biraeng” yang bergelar Sultan Abdullah Awwalul Islam memeluk Islam pada malam Jum’at, 22 September 1605 M. Di saat yang sama, Kerajaan Gowa diperintah oleh raja ke 14, Sultan Alauddin yang bergelar I Mangerangi daeng Manrabia, kakek dari Sultan Hasanuddin. Keduanya merupakan peletak dasar tonggak pemberlakuan syariat Islam di kerajaan Makassar yang berlanjut secara turun temurun ke raja-raja berikutnya.
Penyebaran agama Islam di Makassar pada awalnya sangat dipengaruhi oleh kehadiran Abdul Ma’mur Khatib Tunggal atau Dato’ Ri Bandang yang tiba di Tallo pada bulan September 1605. Beliau mengajarkan materi syariat Islam sebagai pembahasan awal dalam dakwah dan penyebarannya.
Dalam berdakwah, Datok ri Bandang dibantu dua orang rekannya yaitu Datok Pattimang dan Dato di Tiro yang kemudian dikenal dengan nama Datuk Tellu’e (tiga datuk). Ketiga Datuk ini bukanlah orang Bugis-Makassar melainkan orang Minang yang merantau ke Sulawesi Selatan. Sebelum ke jazirah Sulawesi, mereka sebelumnya belajar agama di Aceh.
Kehadiran ke tiga datuk ini atas rekomendasi pemerintah kerajaan Aceh yang dipimpin oleh seorang Ratu, rekomendasi tersebut berdasarkan surat permohonan masyarakat Sulawesi Selatan agar kerajaan Aceh mengirimkan guru agama untuk menyiarkan Islam di daerahnya.
Dua tahun setelah raja Gowa dan Tallo memeluk agama Islam, seluruh rakyat Gowa dan Tallo dinyatakan memeluk agama Islam yang ditandai dengan sholat Jum’at pertama di Masjid Tallo pada hari Jum’at tanggal 9 Nopember 1607, bertepatan dengan hari 19 Rajab 1016 Hijriah. “Hari ini Raja telah masuk Islam, maka masuk Islamlah kalian semua,” tegas Raja Tallo dalam deklarasi tersebut. Selanjutnya peristiwa bersejarah ini menjadi dasar penetapan hari  jadi kota Makassar.
Raja Gowa mengemukakan bahwa walaupun Islam sebagai panutan resmi kerajaan namun semua golongan dalam wilayah kerajaan Makassar tetap mempunyai hak sama dan mempunyai kebebasan memeluk dan menjalankan keyakinan menurut agamanya, dan mendapat perlindungan dari kerajaan, penghargaan terhadap keberagaman (pluralisme) dalam bermasyarakat ini menjadi puncak perwujudan konsep masyarakat madani (civil society) yang dipelopori oleh kerajaan Makassar.
Salah seorang sejarawan Inggris, C.R. Boxer dalam bukunya “Fransisco Viera De Guereida a Portuguese Merchant-Adventure In South East Asia 1627-1667” mengemukakan kekagumannya pada kemampuan pemimpin dan masyarakat Makassar menyikapi perbedaan, karena menurut perkiraannya apabila kerajaan Makassar menganut agama Islam sebagai agama kerajaan, ada kemungkinan bangsa-bangsa lain akan mendapat kesulitan untuk berinteraksi dengan masyarakat dalam lingkungan kerajaan Makassar.
Anggapan tersebut pada kenyataannya justru terbalik, semua orang dari bangsa lain yang non muslim diberi kebebasan berkomunikasi dan berinteraksi dengan masyarakat dibawah perlindungan kerajaan.
Sejak berdirinya kerajaan Islam Gowa-Tallo, maka kemajuan pesat terjadi  di segala sektor, utamanya di bidang perdagangan dan maritim. Kehadiran Pelabuhan Makassar sebagai pusat perniagaan berkembang dan terkenal  di benua Timur atau Asia.
Perkembangan tersebut tak lepas dari peran pelaut ulung Bugis-Makassar dalam mengarungi Nusantara. Ke Barat hingga ke Madagaskar, ke Timur hingga ke Irian, ke Utara mengetuk China dan ke Selatan menyentuh Australia, dalam kajian Australia terdapat bukti adanya hubungan masyarakat pribumi dengan para pelaut dari Makassar dengan ditemukannya tumbuhan Lontar yang hanya tumbuh di daerah pesisir barat Pert, selain itu terdapat kesamaan struktur bangunan rumah panggung  Bugis terbuat dari kayu dan sampai sekarang masih ada di daerah Brisbane (adanya hubungan asimilasi budaya antara suku asli aborigin dengan kebudayan Makassar perlu diteliti lebih lanjut).
Sekilas gambaran sejarah inilah yang melandasi pemerintah melalui pembahasan yang alot dari seminar budaya, lokakarya, yang menampung semua anspirasi pakar, dan budayawan hingga rapat dan jajak pendapat oleh DPRD menetapkan tanggal 9 Nopember 1607 sebagai hari jadi kota Makassar.
Tanggal tersebut dipilih sebagai hari jadi Makassar untuk mengenang momentum masa keemasan kerajaan Makassar yang mempunyai makna dan nilai kemanusiaan yang tinggi serta sejarah yang monumental. (Source : Biduk belum berlabuh, 400 tahun Nafas Kota Makassar)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: